BEM UNESA : SHARING SESSION “SUDAH SIAPKAH KITA MULAI PEMBELAJARAN TATAP MUKA?”


[LPK GEMA UNESA – 5/2/2021] Kegiatan webinar bertema “Pendidikan” oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya dalam rangka memberikan pengetahuan dan wawasan kepada masyarakat serta mahasiswa khususnya terkait Rencana Program Perkuliahan Tatap Muka yang hendak dicanangkan oleh Pemerintah bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi dan Belmawa DIKTI pada semester gasal tahun 2021.


Webinar ini dihadiri oleh Bapak Agus Hariyanto, M.Kes selaku dosen dari Universitas Negeri Surabaya, Ibu Yulita sebagai perwakilan dari Belmawa DIKTI, dan Ibu Butet Manurung selaku Direktur dari Sokola Institute. Acara ini juga dibuka secara virtual oleh Rektor Universitas Negeri Surabaya, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes.

Bapak Agus Hariyanto sebagai pembicara pertama memaparkan mengenai efisiensi program perkuliahan tatap muka dan beberapa pertimbangan yang perlu diketahui oleh civitas akademika sebelum dilaksanakannya perkuliahan tatap muka. Kemudian dilanjutkan dengan materi dari Ibu Yulita terkait transformasi, strategi dan tantangan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di masa pandemi. Dipaparkan pula hasil survei terhadap penyelenggaraan pembelajaran selama satu tahun pandemi, dengan 87.600 responden dalam 60 indikator yang diukur. Di mana didapatkan hasil bahwa pendidikan jarak jauh tidak serta merta dapat diadaptasi dengan mudah. Sementara, Ibu Butet Manurung berbagi pengalaman mengenai hal-hal yang beliau pernah alami saat berada di pedalaman dan lika-likunya ketika akan mendirikan Sokola Institute.

Ketiga pemateri tersebut memberikan informasi yang sangat bermanfaat. Hal tersebut dikarenakan banyak sekali materi yang sebelumnya jarang diketahui mampu membuka kacamata dari peserta yang mengikuti webinar tersebut. Webinar ini diikuti oleh lebih dari 250 peserta yang rata-rata adalah mahasiswa Unesa. Setelah pemateri menyampaikan materinya kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan dibatasi tiga pertanyaan dari peserta.

(Ika & Tya)

CATATAN PENDEK UNTUK LELAKI TAMPAN

Sebelum sinar matahari pagi datang membangunkan seluruh manusia dari alam tidurnya. Kini, sesosok lelaki tampan dan gagah sudah bangun untuk menemui sang pencipta dengan penuh suka cita. Di saat semua orang tertidur pulas dan bergelut asik dengan bunga tidurnya, sekarang ia fokus untuk melakukan gerakan yang khusyuk yakni sholat. Lelaki tampan itu kini sedang sholat witir, sholat yang jarang sekali dilakukan oleh umat islam yang kini sedang tertidur pulas di atas ranjang. Ia selalu melakukan sholat witir sebelum pagi tiba dan entah kenapa aku selalu terpesona dengan kharismanya yang selalu dihormati oleh orang-orang yang ada disekitarku. Mereka bilang lelaki tampan itu sangat menakutkan. Ada juga yang bilang bahwa lelaki tampan itu sangat baik hati dan penyayang kepadaku, karena lelaki tampan itu selalu memberikan apapun yang kuinginkan.

Suatu hari aku pernah diajak ke mall yang terkenal di kotaku. Lelaki tampan itu dengan penuh semangat dan wajah yang bahagia mulai mengajakku berkeliling mall dan secara tidak langsung ia menjadi tour guide pribadiku di dalam mall. Kebetulan sekali, saat itu aku belum pernah masuk ke mall, sehingga besar sekali rasa ingin tauku yang terlintas di dalam pikiran untuk kutanyakan.

“Hei.. Ayo kita liat bagian baju-baju di sebelah selatan,” ujar lelaki tampan itu kepadaku dengan penuh semangat.

“Selatan itu sebelah mana? Aku tidak tau arah mata angin jika berada di luar lingkungan rumah hehehe..” ujarku dengan penuh kebingungan, pasalnya aku sama sekali tidak tau arah yang ada di dalam gedung mall itu, namun ia dengan senang hati langsung menggandeng tanganku secara lembut dan hangat menuju arah selatan.

Semakin lama ia menggenggam tanganku, semakin kurasakan bahwa tangan ini merupakan tangan seorang lelaki tampan yang berkharisma. Tangan yang penuh dengan kekuatan untuk mendapatkan rezeki, tangan yang menjadi penentu untuk kebahagian orang-orang yang dia sayang dan cintai.

Lelaki tampan itu kini berada di sampingku, mengarahkanku memilih barang apapun yang aku suka di dalam mall. Tanpa sadar kini ia mulai memanjakanku dengan pundi-pundi rupiah yang ia hasilkan selama ini, aku sebagai orang yang punya rasa kasih sayang dan pengertian hanya bisa terdiam memandangi barang-barang mahal yang ada di depanku tanpa kusentuh sama sekali. Hal itu arena aku takut jika lelaki tampan itu mungkin akan membelikan barang-barang yang aku pegang. Sekadar informasi saja bahwa lelaki tampan itu hanya bekerja di rumah dan tidak memiliki gaji harian atau bulanan yang tetap, sehingga aku takut jika aku membeli barang mahal ini. Maka ia nantinya tidak bisa makan karena uangnya habis untuk membelikanku barang mahal.

“Kenapa tidak memilih barang yang cocok untukmu? Bukankah selama ini kamu membutuhkan tas yang bagus, jadi kenapa kamu tidak melihat-lihat tas?” ujar dia mencoba merayuku untuk membeli tas yang cocok.

“Ahh.. tidak nanti saja kita beli di pinggir jalan lebih bagus dan murah, daripada di sini barangnya mahal tetapi pilihannya hanya sedikit.” Aku dengan mudah mengatakan hal tersebut agar ia menyetujui untuk membeli tas di pinggir jalan saja. Akan tetapi, dugaanku salah, lelaki tampan itu tetap kekeh untuk membelikankku tas mahal, pada akhirnya aku memiliki satu tas yang sangat berharga untukku dibeli dengan harga yang mahal.

Sejujurnya aku bahagia bisa memiliki seseorang lelaki tampan yang baik hati, penyayang, berkharisma, dan tentunya dapat membuat aku bahagia setiap saat. Bahkan mampu menjagaku dengan baik. Bagiku lelaki tampan itu merupakan sosok lelaki yang sempurna yang pernah hadir di dalam kehidupanku dan aku jatuh cinta kepadanya selama 20 tahun. 20 tahun bukanlah waktu yang sedikit, bagiku 20 tahun itu merupakan waktu yang sangat sempurna untukku bisa tetap berada di sampingnya tanpa menyandang status yang berlebihan seperti anak-anak remaja di luar sana. Itu karena lelaki tampan yang selama ini aku cintai merupakan ayahku. Sosok lelaki yang selalu memenuhi hari-hariku dengan penuh canda tawa serta sosok yang selalu mendukung apapun yang ingin aku capai salah satunya pergi ke korea. Aku dengan penuh percaya diri akan pergi ke korea dan menuntut ilmu di negeri ginseng tersebut dan berharap bisa mengangkat derajat lelaki tampan yang kini sedang hidup bersamaku.

Oleh : Herlisa Dwiyanti

JEJAK EVALUASI KKN DI MASA PANDEMI

[LPK PERS GEMA UNESA – 17/04/2021] Banyak aspek yang berubah bahkan berganti sejak pandemi Covid-19 hadir. Termasuk juga Kuliah Kerja Nyata atau yang biasa disingkat dengan KKN. Banyak dinamika baik buruk yang dihadapi oleh mahasiswa saat melaksanakan KKN di masa pandemi. Berangkat dari persoalan ini, Tim Litbang Pers Gema Unesa mengadakan survei untuk mengetahui pendapat mahasiswa tentang pelaksanaan KKN di kala pandemi. Survei dilaksanakan selama 6 hari, dibuka pada tanggal 8 April 2021 dan ditutup pada 13 April 2021. Survei ini menjaring responden sebanyak 102 mahasiswa dari berbagai kelompok KKN di Universitas Negeri Surabaya.

Survei ini bukan bermaksud membuat gambaran representatif mengenai kegiatan KKN Unesa di masa pandemi. Secara metodologis, survei tidak memenuhi syarat untuk bisa dianggap genaralisasi. Survei akan merekap data bagaimana pandemi mempengaruhi kegiatan KKN yang diselenggarakan.

Agar KKN tetap dapat berjalan di masa pandemi, pada tahun ini KKN Unesa dilaksanakan sesuai dengan daerah asal mahasiswa. Diharapkan dengan kesesuaian tempat KKN dengan daerah asal mahasiswa akan mempercepat serta mempermudah penyusunan program yang tepat sasaran dan juga mengurangi perpindahan mahasiswa antar kabupaten maupun provinsi.

Dilaksanakannya KKN di masa pandemi ini, tentu merogoh pengeluaran lebih besar dari pada pelaksanaan KKN diluar pandemi. Hal ini disetujui 94 dari 102 jumlah responden kami. Biaya tambahan ini dikeluarkan untuk pembelanjaan perangkat medis seperti masker dan hand sanitizer. Sejumlah 98 mahasiswa yang menjadi responden tidak mendapat bantuan dari kampus. Baik itu berupa bantuan fisik maupun bantuan non fisik. Besar harapan mahasiwa untuk mendapat bantuan dari kampus untuk sedikit meringankan biaya yang dikeluarkan.

Hasil survei 102 mahasiswa Unesa dari berbagai kelompok KKN

Subsidi banner dan topi yang dijanjikan oleh universitas juga lambat terdistribusikan kepada mahasiswa, padahal program KKN ini sudah terlaksana kurang lebih satu bulan. Distribusi topi dan banner molor dari jangka waktu yang seharusnya, walau demikian pihak universitas tetap mendistribusikannya bertahap. Beberapa wilayah seperti Pasuruan baru menerima April lalu, sedangkan wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Ponorogo, Pacitan dan Madura baru akan mulai di distribusikan tanggal 21 April mendatang.

Pendistribusian banner dan topi untuk Surabaya dan sekitarnya itu dilakukan dengan membuat janji pertemuan di tempat umum seperti alun-alun kota antara pihak birokrasi dengan perwakilan kelompok KKN daerah. Sedangkan kelompok dengan luar daerah bahkan luar pulau, pendistribusian dilakukan dengan menggunakan ekspedisi.

Pelaksanaan KKN di masa pandemi ini juga dirasa kurang efektif dan tidak urgent untuk dilaksanakan. Hal itu diungkapkan oleh Laila Camelia salah satu anggota KKN Unesa di Sidoarjo. “Sebagai evaluasi, KKN lebih baik diganti kegiatan kemasyarakatan lain, seperti donor darah yang memang dibutuhkan oleh pasien Covid, maupun ex-Covid atau sosialisasi lain yang berguna untuk masyarakat.” tambah Laila saat diwawancarai oleh Tim Gema Unesa.

Berbeda dengan Laila yang mengeluhkan kendala KKN selama pandemi terutama permasalahan finansial. Ayu salah satu responden, tidak merasakan kendala yang berarti. “Kendala sih tidak ada, hanya saja kita sedikit kesusahan untuk memantau perkembangan desa tersebut terhadap program yang kami laksanakan agar menjadi desa yang aktif.” Imbuh mahasiswi yang saat ini menempuh perkuliahan di semester 7.

KKN berlangsung, bukan berarti kegiatan kuliah pending. Mahasiswa yang mengikuti KKN, tetap harus mengikuti mata kuliah yang berlangsung secara daring. Pada survei aspek komunikasi, mahasiswa tidak memiliki kendala dalam menghubungi dosen pembimbing. Namun, terdapat kendala ketika melakukan koordinasi antar anggota tim dengan suara sebanyak 43 responden.

Tidak hanya aspek finansial dan komunikasi, hambatan juga ditemui sedikitnya 40 responden, mereka merasa kesulitan mendapatkan perizinan. Mereka juga berpendapat bahwa pelaksanaan KKN selama empat bulan, terhitung dari bulan Maret-Juni dirasa kurang efektif, menurut perolehan sebanyak 86 responden. “Apabila pandemi masih berlangsung dan KKN tetap harus dilaksanakan, kebijakan pemerintah harus senantiasa berkesinambungan dengan universitas, agar KKN bisa dilaksanakan dengan baik. Tentunya, dengan distribusi subsidi yang lebih baik agar mahasiwa merasa sedikit teringankan.” Timpal salah satu responden.

(Redaktur Litbang LPK GEMA UNESA).

Pesan guru

Guru …
Pesanmu mengukir lubuk hatiku
Di setiap langkahku
Di desir darahku
Di pelupuk mataku
Terngiang-ngiang di telingaku
Alunan pesan santunmu

Lembut jari-jarimu 
Membelai kebodohanku
Lenyap berganti pintar yang menggetar
Kritis yang kreatif
Pasti yang berprestasi
Tak bosan kau ulurkan tanganmu 
Tuk meraih bintang

Guru …
Kau alunkan kata 
Angkuh bukan pribadimu
Budi luhur yang punya malu
Sombong bukan milikmu
Jauhkan jangan mendekat

Kau hantarkan 
Di meja belajarku 
Dengan pesona nan anggun 

Guru …
Tiada kata yang patut ku alunkan
Hanya secercah kata
Terimakasih guru
Pesanmu kan ku kenang 
Sampai akhir hayatku

Yunita Herlina
Pend. Olaharaga / FIO
2021

Lara


Satu windu berlalu
Dan bayanganmu tetaplah semu
Meskipun hati ini tak mampu
Tapi akan tetap ku kuatkan agar kau tahu
Dulu kala
Hujan memberiku canda tawa
Karena waktu itu kita masih bersama
Namun saat ini
Semua sudah sirna
Lagu lama kini menjadi luka
Dan hanya menyisahkan air mata
Bukan karena apa
Namun mengapa, mengapa hati ini masih sama
Mencintaimu tanpa aba-aba
Meskipun sering kali membuatku terluka
Kerap kali menjatuhkan air mata
Namun tak apa
Segalanya kini menjadi cerita
Cerita yang akan lama tuk dilupa
Hingga suatu hari tiba
Akan ada seseorang yang akan
Memunculkan suatu cahaya
Dan membuat raga sembuh dari duka

Oleh : Farah N. Millah
Lamongan, 18 April 2021

Nalar Kritis Mahasiswa