Aksi SMPPF Menuntut Realisasi Kampus Anti Penindasan

March di jalan gedung Rektorat Unesa menuju selasar gedung rektorat Unesa.

Unesa – Kamis (15/11), puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Perjuangan Pekerja Foodcourt Unesa (SMPPF Unesa) melakukan aksi demo guna menyampaikan permasalahan yang dihadapi oleh sembilan pekerja foodcourt tentang gaji yang belum dibayar selama dua bulan. Aksi tersebut dilakukan di dua tempat, yakni di depan gedung Fakultas Ekonomi dan lobby rektorat kampus Lidah Wetan.

Menurut press release yang dibawa oleh kelompok aksi menjelaskan bahwa Unesa merupakan kampus yang telah berstatus BLU (Badan Layanan Umum) berdasarkan surat keputusan menteri keuangan No. 50/ KMK. 05/ 2009 dalam website blu.djpbn.kemenkeu.go.id. Namun, jika dilihat dari kenyataan yang ada pihak Unesa masih mengalami permasalahan  dalam menjalankan sistemnya. Seperti tertunggaknya gaji sembilan pegawai selama dua bulan, yakni bulan September-Oktober 2018. Surat kontrak kerja dari sembilan pegawai ini sebenarnya sudah berakhir sejak tahun 2015, tetapi pekerja tersebut tetap dipekerjakan dan terakhir menerima gajinya pada bulan Agustus 2018.

Rektor menemui massa aksi SMPFF

    Selang beberapa menit, Prof. Nurhasan selaku Rektor Unesa dengan ramah menyambut langsung para mahasiswa yang melakukan aksi tersebut. Ujarnya “Saya bangga melihat mahasiswa yang melakukan aksi untuk membela hal-hal seperti ini, karena saya dulu juga mahasiswa”. Selanjutnya proses mediasi antara kedua belah pihak berlangsung dengan tertib. Peserta aksi duduk sambil mendengar penjelasan yang disampaikan oleh beliau. Satu per satu mereka menyuarakan aspirasinya di depan rektor Unesa.

Seperti yang dikatakan oleh salah seorang dari kelompok aksi tersebut, “Memang sembilan pekerja ini, terhitung sejak September-Oktober tidak digaji. Setelah diidentifikasi oleh kawan-kawan yang memiliki Sk kerja hanya tiga orang dan itu pun hanya sampai tahun 2015.” Melihat dari omongan tersebut Rektor Unesa Prof. Nurhasan langsung menanggapinya dengan tenang. Bahwa permasalahan tersebut sedang diproses, “Proses sudah dijalankan, kemarin ada laporan dari ketua BPU bahwa perlu SK Rektor karena ada temuan BPK.”

    Bukan hanya masalah foodcourt yang diangkat pada aksi itu, melainkan ada beberapa permasalahan lain yang diajukan, yaitu tentang masalah AC yang ada di perpustakaan Ketintang dan penghapusan jam malam. Semua permasalah sebenarnya sudah diselesaikan, terutama pokok permasalahan mengenai gaji para pegawai foodcourt, karena pada saat itu juga bersamaan dengan aksi berlangsung, sedang terlaksana pembagian gaji kepada pegawai Foodcourt yang terjadi di lantai 5 gedung rektorat.

Akan tetapi untuk permasalah tentang penghapusan jam malam di kampus Ketintang, Rektor Unesa mengembalikan kembali pertanyaan itu kepada mahasiswa. “Apakah mahasiswa siap untuk bertanggung jawab atas dihapusnya jam malam yang ada di kampus, kalau memang setuju, maka saat ini juga harus ada kesepakatan jaminan yang ditanda tangani oleh saya selaku Rektor dan kalian selaku peserta aksi sebagai jaminan” Ujar Prof. Nurhasan selaku Rektor. (dad/abs/yan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *