KENDENG DARI DALAM

Oleh: Nugroho Adi

Setelah pendakian pertamanku ke puncak Pawitra, Jawa Timur. Aku merasakan di sebelah barat sana juga ada barisan lereng yang sama. Seorang anak pendiam yang sedang tidur mendekap seribu mineral. Lereng dengan puncak mati, namun anginnya cukup panas dan riuhnya mampu memekakkan semua telinga kemanusiaan.

Mungkin karena orang-orang sedang digugat oleh dirinya sendiri. Mengenang satu dekade silam, yang dengan ceroboh melepas tanah-tanah subur kepada malaikat sialan. Kini uang telah habis dibagi rata. Nalurinya memberontak, aluvial dan stalakmid tak boleh lagi diinjak apalagi digaru. Apakah ini sebuah penyesalan? Barangkali seperti itu, menyesal kepada keterburu-buruan. Asal tahu saja, saat ini ada dua aliansi masyarakat di Kendeng Utara. Satu adalah pro dan satu adalah pemberontak. Satu berteman malaikat sialan, satu lagi berteman dengan nurani kehidupan. Tanpa turut andil orang-orang dalam, rasanya cukup mustahil jika melihat pembangunan pabrik yang mulus kokoh tak tertandingi itu. Orang-orang dalam, pemilik kendali pemerintahan, juga orang-orang Kendeng Utara pengatur ritme pedalaman tak lain ialah para sekutu sewaan yang menghasut dari dalam.

Kemudian kita kembali melihat hari ini. Kabar meninggalnya salah seorang pejuang Kendeng bak wabah menyebar ke seluruh sudut-sudut kerumunan. Seolah momen yang tepat, untuk menunjukkan solidaritas bela sungkawa. Di beberapa kota besar kemudian diadakan aksi dukungan dan doa bersama. Semua pusat angkringan mengecam. Ikut-ikutan berduka cita agar tetap dibilang kelompok yang peduli kemanusiaan. Semua napas seketika serasa jadi mulia, bangga telah menjadi bagian pendukung menolak penindasan. Sementara itu kiraku dan semoga saja tidak benar. Bahwa mata dan hati mereka tidak pernah atau mungkin sedikit pun tidak mempelajari dan tahu intrik maupun kepentingan apa yang sebenarnya melanda Kendeng.

Namun lepas dari dugaan di atas setidaknya fenomena tersebut telah menunjukkan bahwa kepedulian terhadap alam, manusia, dan kehidupan tanpa penindasan sangat kental dan luar biasa. Ketika suasa begini, aku kembali ingat pada pedoman umum kehidupan yang perlu diuri-uri bahwa, kebutuhan pokok manusia adalah sandang, pangan, papan. Bukan sandang, pangan, semen.

Masih dari sudut pandang seorang yang tumbuh dan besar di seribu meter dari pegunungan Kendeng. Sedikit pengantar dan sekadar pengisi paragraf saja bahwa aku adalah bagian dari lintas generasi, sebuah kolaborasi antara kaum Samin yang notabene merangkul seluruh bayi kelahiran Karesidenan Pati: meliputi Pati, Jepara, Blora, Rembang, dan Grobogan. Sehingga tidak salah jika orang-orang kesetaraan golongan kami memiliki semacam factor-x. Sebuah dorongan yang menjadi lingkaran pusat kegilaan terhadap sesuatu hal yang diyakini. Juga aku adalah bagian dari kaum Kendeng. Adalah sebutan bagi orang-orang yang berada di punggung pegunungan kapur yang membentang di sebagian besar utara pulau Jawa itu. Dengan melihat nasib di bidang geografis inilah yang membuatku sedikit banyak tak tinggal diam dan sangat sensitif tentang apa-apa yang menyangkut Samin maupun Kendeng.

Halah, apalah sebuah arti golongan. Menggolong-golongkan diri dalam sebuah kaum. Membatasi diri dan misi dari peradaban -mendeklarasikan diri bahwa hidup dan matinya hanya untuk kelompok. Asu tenan, mengapa pula harus ada deskripsi naif semacam ini. Paradigma yang berpotensi membuat manusia menjadi mudah untuk lupa akan riwayat, jejak rekam, dan kesan terhadap dirinya sendiri. Ah, betapa tak berharganya orang yang tak menghargai sejarahnya sendiri.

Langsung saja, jadi begini asal muasal tajuk yang sedang hangat dalam kajian-kajian aksi solidaritas di jalanan itu tentang Kendeng. Delapan tahun yang lalu, aroma keresahan mulai melanda. Para pemilik saham sedang dilanda kegelisahan. Kening mereka mulai panas. Persediaan semen di Tuban, Jawa Timur mulai habis, ditambah lagi dengan kekalahan di Pati, Jawa Tengah setahun silam dalam perebutan lahan dan izin pembangunan yang sama. Tak habis akal, semacam mendapat mukjizat, dengan ala-ala malaikat penyelamat mereka tawarkan kesejahteraan pada petani di Kendeng Utara.

Negosiasi dan trik luar biasa telah mampu memperdaya sekumpulan orang yang pada dasarnya memang tak pernah lekang dari kebutuhan. Kehidupan hanya melulu tentang ketakutan tidak makan. Yang asu-nya lagi kok ya dengan mudahnya orang-orang itu menerima tawaran mereka. Singkat cerita, setelah tanah dan batu dijual, otomatis kaki tak boleh menginjaknya lagi selama proses penggarapan telah dimulai. Hal tersebut yang menurutku mensinyalir gerakan perlawanan yang dapat dibilang terlambat, setelah dimabuk oleh rayuan, uang, dan janji kesejahteraan. Kini hasil penjualan tanah telah habis sementara pabrik 70% telah dalam pembangunan.

Dan mudah ditebak saja, posisi yang semakin tersudut kian memuncakkan hastar untuk kembali hidup tentam. Berontak! Menuntut kembali kebodohan silam. “Betapa asunya diriku ya Allah.” kira-kira seperti itu renungan hati mereka. Aku tidak merasa kecewa setelah mereka sadar betul bahwa diri telah dibodohi, bahwa diri ini telah membodohi diri sendiri. Namun yang benar-benar biadab dalam prahara ini adalah berapa menjijikkannya orang-orang itu-warga desa-kaum Kendeng Utara yang dengan tega menipu saudaranya sendiri yang lagi-lagi demi alasan klasik: keuntungan pribadi.

Orang-orang menjijikkan itu tak lain adalah tangan-tangan kanan para pemberi modal guna mencari dan membuka jalan dalam memuluskan proses dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kelancaran pembangunan negeri semen. Orang-orang dalam itu tentu mendapatkan bagian, mereka semacam lokomitif menuju kejayaan negeri semen. Kalau sudah begini, apa masih relevan jika aksi solidaritas yang penuh semangat di jalanan itu hanya untuk meneriaki dan menyudutkan permerintahan yang tidak becus? Solidaritas juga harus objektif. Ada kepentingan yang penting di dalam kepentingan yang mau tidak mau menjadi penting ini.

Bagiku, ini tidak lain tentang konflik internal sesama kaum Kendeng. Masih ada hasrat setan dalam diri mereka yang hanya ingin mensejahterakan hidupnya sendiri. Bayangkan saja, ada dua kubu yang punya misi saling menyingkirkan hidup dalam satu desa. Betapa Keresahan, singgungan, dan konflik sangat mungkin dan rentan terjadi dalam setiap rumah, pinggir jalan, ataupun angkringan. Ah, hingga kini hingar-bingar riuh-rendah di Kendeng Utata telah memperkosa telingaku. Segala misuh dari yang paling sopan sampai bajingan telah aku lontarkan dengan sangat haqiqi dan fasih. Apalah dayaku yang hanya misuh-misuh sembari menghitung hari kekalahan kami.

“Seorang mertua dan mantu yang tinggal serumah saja bisa saling membenci bahkan saling membunuh.” Jawaban kesekian dari deretan pertanyaan kepada seorang pria yang menurut hematku sedikit banyak tahu alur cerita di Kendeng Utara. Semua kaum Kendeng Utara yang mau berpikir kiraku memiliki tingkat dan versi pengetahuan yang sama. pengalaman terhadap gejala dan kondisi hidup  telah membuat mereka yang mengalami maupun “mengamati” dalam artian tidak terdampak langsung, kemungkinan memiliki ikatan sensifitas yang harmonis.

Soal penderitaan manusia memang cerderung lebih serasi. Meski hanya seorang pengamat, siang itu di sebuah gardu di halaman Sekolah Dasar. Njagong dengan seorang pria paruh baya. Aku semacam menemukan anak oase, setelah beribu cahaya melewati gurun kegelisahan. Kantong asusmi aku kosongkan untuk kemudian diisi ulang dengan kisah-kisah parau lainnya. Bukan berarti soal kebenaran, sebab terlalu lancang apabila harus mendoktrin sebuah narasi yang dengan sepenuh hati kita yakini semena-mena sebagai kebenaran yang mutlak.

Mari bermain subjektifitas. Berjarak sekitar 40 tiang listrik dari negeri semen. Aku pandangi dengan syahdu, dari sebuah celah di antara daun pepaya dan ranting jati. Beton-beton yang semakin tinggi saja, nancep dengan kokoh selaras dengan sloganya. Jangan salah kira, belum nampak kegersangan di sekitarnya, pohon-pohon masih setia tumbuh mencintai sisa nasibnya, menunggu giliran digilas roda-roda baja. Pemandangan yang cukup menyenangkan bukan. Halah kau tahu lah gimana perasaanku. Selepas menebar pandangan ini, percakapan kami mulai. Singkat cerita berikut adalah tafsiranku:

Sudah berualang kali bilang kalau ada kepentingan yang lebih dalam konflik ini. Kubu yang saling beradu sama-sama tumbuh subur dengan semangatnya masing-masing. Semangat pembebasan dan pensejahteraan. satu berorientasi publik, satu diri pribadi (soalnya masih belajar). Haluan inilah yang kemudian membentuk semacam jarak di antara sesama orang-orang yang sebenarnya dalam penderitaan yang sama-sama dirasa. Hanya saja berbeda pada haluan satu sama lain (hanya?). Nah, haluan inilah yang menjadi prosedural mutlak untuk terus menumbuhkan pergerakan. Alhasil, tak dapat disangkal lagi, orang-orang dalam naungan nasib yang sama ini menjadi sensitif. Rentan terdahap pergesekan dan konflik yang mau tidak mau hal tersebut semakin memperluas jarak mereka.

Luar biasanya lagi hal tersebut juga tidak lain terjadi dalam satu rumah tangga. Pasangan suami istri rela untuk bercerai demi mempertahankan kesetiaan pada ideologi. Bahkan kesetian kepada ideologi telah melebihi kesetiaan pada orang tua, saudara, atau teman ngopi sendiri. Ah, ideologi memang lebih menenangkan dari pada kesetiaan, begitu barangkali tafsirnya.

Dalam keseharian tidak ada yang benar-benar berubah. Orang-orang tetap membaur berbelanja di pasar, selayaknya suasa pasar tradisional di mana saja. Seakan tak terjadi apa-apa. Tidak nampak sebuah penjagaan yang berlebihan atau siaga petugas mengantisipasi pertikaian. Manusia memang berbakat menyembunyikan penderitaan. Meski tak dapat dipungkiri kecurigaan selalu mengintai satu demi satu dari mereka, di angkiran orang-orang dengan tekun mengaduk kopi, merangkai masa depan, dengan sesekali kalau perlu membatah argumen lawan.

Di rumah, sang mertua tak hentinya menyindir si menantu, “Wani rabi kok gak wani ngeragati.” Dengan campur sedikit bumbu latar belakang ekonomi, mengungkit status pengangguran si mantu, mencemaskan masa depan anak dan cucu. Hidupmu saja numpang di rumah saya, pekerjaan gak jelas, harta gak punya, masih sok-sokan jadi pemberontak, menolak pabrik semen. Dancuk-mu le.

Dan mudah saja lah. Ternyata benar, sang mertua punya harta banyak juga hasil kerjasama dengan pihak perusahaan. Dan berbagai sensifitas lainya yang membahara.

Dengan tensi semacam ini benar saja jika kekalahan selalu bernaum pada rakyat. Lagi-lagi hasrat individu. kemudian aku juga menemukan fakta lain, bahwasanya lokasi pembangunan pabrik saat ini ternyata berada di kawasan Perhutani, yang mana hal tersebut setidaknya menyulitkan akses masyarakat untuk menolak atau dalam istilah “mengusir” para bandit semen-mania. Oh asu juga ya ternyata, kok ya bisa-bisanya sesama penguasa besekongkol.

Oh iya, aku tadi sedang menjemput adikku pulang sekolah, dan sekarang dia sudah ngowoh nunggu aku selesai cerita. Sudah ya, besok dilanjut lagi. Capek.

 

26 Maret 2017

*Nugroho Adi. Suka melamun tapi belum pernah kesurupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *