Bergaya Politik, tapi Baper Kena Intrik.

Oleh : Muhammad Fajar

Mahasiswa S1 Manajemen

Fakultas Ekonomi  Unesa

Hidup mahasiswa!

Setidaknya dua pekan ini Badan Eksekutif Mahasiswa) BEM Unesa 2018 kedewasaannya sedang diuji, tanpa memihak barisan manapun saya tulis ini dengan pandangan pribadi tanpa menungganggi kepentingan organisasi.

Lagi lagi ulah oknum yang bikin saya tergelitik, dengan gaya sok nyentrik, seolah-olah buat keadaan jadi semakin menarik. Diawali karena tragedi 23 Mei, saat pengurus BEM Unesa membuat kemasan kegiatan yang berkolaborasi dengan PB HMI. Saat itu benar-benar terjadi ironi saat pengurus PB HMI memberikan sambutan di podium auditorium Fakultas Ekonomi. Sudah dijelaskan bahwa disini terjadi miss koordinasi dan komunikasi masih saja dibuat gaduh Unesa ini.

Tak cukup sampai disini, seolah-olah dipihak yang paling benar sendiri sampai-sampai BEM Unesa habis di kritisi, padahal yaa hanya jadi saksi tanpa adanya kontribusi. Tepatnya saat BEM Unesa menggelar peringatan Hari Pendidikan, 1000 Pena untuk Unesa dan Lomba Menulis Esai dari salah satu kementerian. Yah namanya juga manusia, pasti banyak salahnya, masih untung BEM Unesa tidak diam saja, salah sedikit dihajar membabi buta.

Cukup sampai disitu saja, sekarang saya bertanya.

Katanya rindu turun ke jalan, diajak jalan di refleksi reformasi yaa enggan ikut beraksi, miris sekali. Katanya rindu badan eksekutif diajak kajian kok yaa masih pasif.

Kalian ini bagaimana?

Kau bilang ayo segera benahi, kami benahi kau tusuk diri ini.

Kami benahi, saat salah kau caci maki kami ini.

Sedikit janji yang kami beri, karena jelas hanya bukti yang kami beri. Tenang kawan, BEM Unesa masih milik kalian, bukan milik ormek-ormek berkepentingan. Maafkan jika kami juga jadi bagian, yang kalian tuduh berkepentingan.

Kami hanya berikhtiar untuk Unesa yang BERDIKARI, agar tirani tidak lagi menguasai.

Sedikit janji yang kami beri, karena jelas hanya bukti yang akan kami beri. Tidak ada kebenaran yang abadi begitu pun kesalahan yang tak kunjung henti. Salam demokrasi!

Kutipan dari seorang demonstran, yang berusaha wujudkan keadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *