DAGELAN ALA BEM UNESA


Oleh : Fajar T. Septiono

Mahasiswa Hukum

Universitas Negeri Surabaya

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), adalah organisasi kemahasiswaan paling bergengsi di perguruan tinggi manapun di seluruh Indonesia. Tidak terkecuali BEM Unesa, organisasi dengan anggaran yang besar, dipandang paling “wah” dan eksklusif se-Unesa Raya. Banyak aktivis yang berada di dalamnya, dan sungguh menjadi kebanggaan jika seorang mahasiswa menjadi bagian dari BEM.

Pada awal pengurusan BEM Unesa 2018, nampaknya sudah mulai ada dagelan yang dimainkan oleh organisasi dewa ini. Pada awalnya, BEM Unesa melalui Kementrian Pendidikan dan Prestasi mengadakan Lomba Menulis Esai dengan tema : analisis masalah, kebutuhan, dan potensi pendidikan di era milenial. Lomba yang diikuti oleh 83 Penulis ini sangat jelas pada TOR (Term of Reference) penulisan disebutkan pada Ketentuan Penulisan angka 4 (empat) huruf c, jelas disitu tertulis “Abstrak”. Akan tetapi pada tanggal 15 Mei, saat orasi esai, Juri mengatakan bahwa esai yang terdapat “abstrak” langsung di diskualifikasi. Sungguh sesuatu yang “ndagel” ketika Panitia dan Juri berlainan. Muncul kekecewaan-kekecewaan para peserta karena tidak adanya transparansi penilaian, dan ditambah hal demikian, karena kebanyakan peserta membuat esai sesuai dengan TOR. Disini timbul pertanyaan yang mendasar, sebenarnya, yang kurang baca itu adalah Peserta, Juri, atau Panitia?!

Belum selesai dengan hal tersebut, kembali pada Rabu 23 Mei lalu, BEM Unesa membuat dagelan lagi, dengan mendatangkan PB HMI ke acara Launching BEM U yang diadakan oleh Kemenpora. Pengurus Ormek menaiki podium dengan mengenakan atribut kebanggaannya. Memang “katanya” ada yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal yaitu larangan menggunakan atribut organisasi mahasiswa ekstra kampus (Ormek). Lantas mengapa keamanan dalam acara tersebut tidak bertindak apa-apa, padahal pengenaan atribut, sejak orang tersebut memasuki gedung dan duduk di kursi tamu undangan. Ada yang dilupakan bahwa Kampus adalah miniatur sebuah negara, adanya keberagaman, tidak terbentuk dari satu golongan saja.

Dari Kampus lah transformasi nilai seharusnya ada. Bukan hanya sebatas politik praktis, tentang cara berkuasa dan cara menindas. Teringat perkataan seorang demonstran bernama Gie “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seidiologi, dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari Sekolah Menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”. Dan pada akhirnya muncul pertanyaan lagi, sebenarnya BEM untuk Unesa, atau yang lainnya?!

Tidak ada tempat yang salah untuk berproses, hanya terkadang banyak orang yang salah dalam berproses, tersesat dalam orientasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *