Selayang Pandang BEM Unesa dan Acara Launching.

Oleh : Agus Hermawan S.

Mahasiswa Unesa

Bulan Mei adalah bulan yang baik karena dibarengi dengan datangnya bulan Ramadhan 1439 H. Mungkin hal ini menjadikan salah satu pertimbangan kawan-kawan BEM Unesa untuk mempresentasikan diri kepada khalayak umum karena mengundang OKP (Organisasi Kepemudaan) se-Jawa Timur dan khususnya warga Unesa sendiri.

Launching itu dikemas dengan apik karena dibarengi dengan seminar nasional yang mengangkat tema “Pendidikan karakter : dalam upaya menangkal radikalisme” dimana radikalisme menjadi isu yang sedang laris dipasaran dikarenakan rentetan kejadian yang sangat mencederai kebhinekaan yang selama ini dijunjung tinggi bangsa ini.

Namun, hal kurang mengenakkan terjadi dihari itu kepada peserta yang hadir dikegiatan yang diadakan oleh BEM Unesa dimana diundangan yang diterima adalah lauching BEM Unesa serta seminar nasional dengan tema yang telah ditentukan. Acara milik BEM Unesa tersebut dibuka oleh pengurus salah satu organisasi ekstra kampus tepatnya adalah PB HMI (Pengurus Besar Mahasisw Islam).

Dalam Keputusan Direktur Jendral Pendidkan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor : 26/DIKTI/KEP/2002 Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus Atau Partai Politik Dalam Kehidupan Kampus, sudah sangat jelas menggariskan dimana posisi Ormek (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus) dalam kehidupan kampus.

Selepas kegiatan tersebut sebagian orang mempunyai anggapan bahwa BEM Unesa mentasbihkan diri sebagai organisasi satu pintu, menjadi organisasi yang hanya milik salah satu Oormek, bukan lagi menjadi Organisasi milik Mahasiswa Unesa. Hal ini sangat disayangkan karena BEM Unesa diharapkan menjadi representasi Mahasiswa Unesa karena BEM Unesa berasal dari Mahasiswa Unesa, oleh mahasiswa unesa, dan seharusnya untuk mahasiswa Unesa, bukan untuk salah satu Ormek.

Meskipun sudah diberikan klarifikasi oleh pihak BEM Unesa terkait kegiatan tersebut. Dimana hal tersebut merupakan hal diluar dugaan panitia kegiatan yg bekerjasama dengan organ ekstra tersebut yang mana pada MoU (Memorandum of Understanduing) sudah disepakati tidak ada atribut organisasi yang dikenakan. Terlihat disini bahwa BEM Unesa sudah gagal menjaga MoU yang sudah disepakati karena lolosnya orang yang memakai atribut organisasi ekstra.

Apapun alasan yang diberikan oleh BEM Unesa terkait hal tersebut. Dapat menjadikan catatan penting bagi kita semua warga unesa bahwa BEM Unesa gagal mengejawantahkan diri menjadi organisasi yang mengayomi mahasiswa Unesa.

Orang bijak berkata bahwa “apa yang menjadi kesan pertama akan melekat selamanya” dan selamat kepada BEM Unesa untuk acara presentasi diri kepada publik sebagai organisasi yang mentasbihkan dirinya sebagai organisasi milik satu golongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *