BEM UNTUK UNESA ATAU YANG LAIN?

Oleh : Fajar T. Septiono

Pada 22 Mei lalu, tersebar undangan terbuka dari BEM Unesa melalui media sosial WhatsApp. Sebuah undangan yang menarik, yaitu Launching BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)  Unesa dan Seminar Nasional tentang “Peran Pendidikan Karakter : dalam Upaya Menangkal Radikalisme”. Pada undangan tersebut terpampang foto beserta nama terang Kapolri kita, Drs. H. M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D, dan Dr. Arbaiyah Yusuf, M.A (Tim Pokja Penguatan Pendidikan Karakter Kemendikbud) sebagai keynote speaker, serta sederetan Panelis yang dalam undangan tersebut terdapat tujuh orang.

Acara yang dilangsungkan di Fakultas Ekonomi Unesa dan bertepatan di bulan Ramadhan ini sangat menarik, karena ada fasilitas Buka Bersama gratis, yang tentu ini tidak akan disia-siakan oleh para PPT (Para Pencari Takjil). Selain Buka Bersama gratis, juga Kapolri sebagai keynote speaker menjadi acara ini lebih menarik peserta untuk datang. Namun sayang, Kapolri pun tak hadir.

Setelah acara yang cukup terlambat dari yang dijadwalkan, sempat mencuri perhatian, seorang yang datang mengenakan atribut Organisasi Mahasiswa Eksternal Kampus (Ormek). Dia datang dan duduk di kursi undangan, ya mungkin dia adalah salah satu tamu undangan dalam acara tersebut. Namun yang menjadi aneh adalah ketika dia menaiki mimbar, sebenarnya dia siapa dan untuk apa? Menjadi pertanyaan besar ketika Pengurus Besar suatu Ormek datang ke acara yang “katanya” milik kampus. Padahal sudah sangat jelas dikatakan dalam Keputusan Direktur Jendral Pendidkan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor : 26/DIKTI/KEP/2002 Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus Atau Partai Politik Dalam Kehidupan Kampus.

Perlu diingat bahwa civitas akademika Unesa terdiri dari berbagai macam golongan, tidak lahir dari satu golongan tertentu saja. Suatu tindakan fatal jika BEM Unesa hanya memberi ruang pada satu golongan saja. Akan memperkeruh suasana kampus dengan adanya tendensi golongan. Akan lahir kecurigaan-kecurigaan antar golongan, dan pada akhirnya pendidikan politik dalam kampus akan mandul, karena dalam setiap kontestasi Pemira, yang menjadi orientasi adalah memenangkan golongan, bukan pendidikan politik.

One thought on “BEM UNTUK UNESA ATAU YANG LAIN?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *