Transgender Sebagai Pilihan Hidup dan Perspektif Tabu (Studi Kasus Lucinta Luna)

Departemen Pendidikan & Penalaran

Himpunan Mahasiswa Prodi Sosiologi

Universitas Negeri surabaya 2018

                       Hasil dari forum diskusi “Critical Class” yang diadakan oleh HMP Sosiologi, pada hari Selasa 24 April 2018, bertempat di ruang kelas I7.02.07 dengan pematik  Anif alviatus sholikhah S.sos adalah, Perspektif tabu merupakan sesuatu yang aneh, tidak wajar, dan tidak umum yang menimbulkan penilaian negatif dari masyarakat. Sebagai orang sosial, kita tidak bisa menilai transgender ini sebagai hal yang benar maupun salah. Karena, pada perspektif sosial tidak ada yang namanya benar atau salah. Namun, hal ini termasuk kedalam suatu penyimpangan sosial, mungkin akan ada sanksi maupun penilaian tabu secara subjektif. Transgender yang dilakukan Lucinta Luna bisa dikatakan benar jika berdasar pada kacamata sosial, namun bisa dikatakan salah jika dilihat dari kacamata agama maupun hukum yang bergantung dengan norma dan budaya. Hal ini dikatakan tabu, karena budaya indonesia tidak menanamkan hal tersebut, dan karena adanya benturan budaya.

            Transgender yang dilakukan Lucinta Luna ini sangat viral, karena adaanya media yang terus berkembang. Latar belakang seseorang melakukan transgender bisa jadi pengaruh dari lingkungan, atau sebuah pengalaman seperti pernah dilecehkan atau dikucilkan semasa kecilnya. Hal yang tabu dilihat dari luar kaca mata sosial, tergantung dengan bagaimana seseorang menempatkan dirinya dalam memandang fenomena tersebut. Dalam lingkup masyarakat terdapat dua kelompok, yaitu mayoritas dan minoritas. Dan fenomena ini termasuk pada minoritas dalam masyarakat. Transgender yang dilakukan Lucinta Luna ini berbenturan dengan budaya, norma, dan agama di masyarakat.

            Ketika peran atau konstruksi sosial seseorang  yang melakukan transgender ini sesuai dengan yang ia miliki, apakah hal tersebut termasuk dalam sebuah penyimpangan ? berbicara mengenai gender dan seks tentulah dua hal yang berbeda, namun memang agak sulit untuk membedakannya. Gender adalah suatu konstruksi sosial, sedangkan seks adalah bentuk fisiknya. Penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Hal ini tidak dapat dikatakan menyimpang karena tidak ada norma yang mengatur peran gender pada seseorang. Lucinta luna adalah figur atau sosok yang dipasang untuk ditunjukkan dan timbulnya indikasi bahwa adanya LGBT di Indonesia. Indonesia adalah negara dengan patriarki yang kuat dan menolak adanya penyimpangan. Sesuatu yang viral dan aneh dianggap hal yang keren. Hal ini menjadi sasaran empuk bagi media.  Jangan sampai kita sebagai generasi penerus bangsa termakan oleh berita yang sedang trending, akan tetapi harus kritis dalam menghadapi hal tersebut, dan memang benar kasus transgender ini akan menambah legitimasi LGBT di Indonesia.

            Sebagai orang sosial janganlah kita menjustifikasi seseorang tersebut melakukan transgender atau tidak. Cukup mengetahui apa yang diketahui tanpa men-judge seseorang dalam lapisan masyarakat karena akan mengganggu hak seseorang. Transgender dari waktu ke waktu dan hal tersebut membahayakan bagi negara yang merubah jati diri seseorang yang sebenarnya. Penerus bangsa yang melanjutkan masa depan negara akan merusak perkembangan, dan transgender menjadi virus bagi negara. Dengan sosialisasi tidak ada salahnya jika dilakukan dalam masyarakat untuk menghimbau agar seseorang tetap percaya pada jati diri yang sebenarnya, selama substansi sosialisasi tidak meng-under estimed seseorang yang LGBT.

            Dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang tidak hanya orang dewasa yang dapat melihat dan menangkap berita yang dapat di search secara mudah di media, namun juga anak-anak dibawah umur. Konstruksi pikiran anak-anak anak dipengaruhi dengan kasus ini, dan cacat dalam sosialisasi kehidupan mereka. Lebih baik jika ada norma hukum yang mengatur tentang dilarangnya transgender. Jika Indonesia melegalkan transgender seperti di negara Thailand, maka akan bertentangan dengan Pancasila dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Konspirasi Lucinta Luna menunjukkan bahwa LGBT itu dapat terjadi, dan terdapat komunitas yang mana didalamnya adalah mereka penyuka sesama jenis. Dalam komunitas tersebut mereka memiliki cara tersendiri dalam mengajak dan menarik seseorang untuk masuk dalam komunitasnya yang bersifat terbuka. LGBT merupakan HAM, kebebasan yang tidak merugikan orang lain.

            Pelegalan yang masih dipermasalahkan, sebenarnya LGBT sendiri tidak meminta legalisasi karena mereka mengetahui bahwa hal tersebut menyimpang, dan mereka sadar bahwa mereka adalah kaum minoritas. Sebenarnya yang mereka inginkan hanyalah jangan mendiskriminasikan mereka dalam kehidupan bermasyarakat.

            Kesimpulan yang diperoleh dari Critical Class yang bertema “Transgender sebagai pilihan hidup dan perspektif tabu” adalah masyarakat Indonesia akan masih tetap menganggap Transgender sebagai sesuatu yang tabu, cukup jangan mengganggu hak orang lain dengan jangan menilai seseorang dari luarnya saja dan jangan mendeskriminasi kedalam lapisan masyarakat minoritas. Bentengilah diri pada perkembangan zaman dengan agama dan norma yang berlaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *