Lebih Baik Umbar Keburukanmu, Daripada Mengumbar Keburukan Saudaramu!

Oleh : Wegig Yhusa

 

Manusia perlu mengkritik dan berkomentar jika lingkungannya membuatnya tidak nyaman. Manusia juga perlu berpendapat seperti apa jalan keluar dan seperti apa yang seharusnya dikerjakan jika apa dia lihat selalu dianggapnya tidak tepat. Tetapi sebelum kedua hal tersebut dilakukan, Manusia wajib bermuhasabah agar kritik dan pendapat yang diberikan bisa diterima dan dihormati oleh Manusia-manusia lainnya.

 Saya pernah melihat dan mendengar video berisi cerita antara seorang ayah dan anaknya. Lebih kurangnya seperti ini ceritanya.

Suatu hari sang Ayah memberikan tugas kepada Anak laki-lakinya, “Nak! Tolong kamu berjalanlah di muka bumi dan carilah makhluk Allah yang paling buruk lalu bawa pulang, jika kamu belum menemukannya jangan pernah pulang ke rumah”. Anak itu menjawab, “Jika itu yang Ayah mau, maka aku akan laksanakan”. Anak itu segera berangkat menyusuri dunia sambil mengamati sekelilingnya apakah ada makhluk Allah yang paling buruk. Tidak lama Anak itu menemukan seorang pelacur, dia berpikir “seorang pelacur pasti memiliki banyak dosa, oleh karena itu dia makhluk Allah yang paling buruk”. Dibawanya pelacur itu pulang, tetapi di tengah perjalanan Anak itu kembali berpikir, “Dia masih muda dan umurnya masih panjang, jadi suatu saat Dia masih bisa bertaubat”. Akhirnya Anak itu mengurungkan niatnya dan tidak jadi membawa pelacur itu pulang. Sepanjang perjalanannya dia telah bertemu dengan koruptor, bertemu dengan perampok, dll, dia masih berpikiran yang sama. Sampai akhirnya Anak itu menemukan seekor anjing dengan tubuh yang bau, dengan tubuh yang kotor, penyakitan, lalu Anak itu menyimpulkan kalau anjing itu adalah makhluk Allah yang paling buruk, Anak itu menangkapnya lalu membawanya pulang. Setelah kembali pada perjalanan pulangnya dan hampir mendekati rumah tiba-tiba muncul dalam hatinya “lantas apa yang membuatnya menjadi buruk, apa salahnya anjing ini, padahal tidak pernah berbuat dosa”. Dilepasnya anjing itu dan Anak itu pulang dengan tubuhnya sendiri sambil menghadap Ayahnya. Ditanyalah Anak itu oleh Ayahnya, “mana makhluk Allah yang paling buruk?”, “Saya yang paling buruk”, jawab Anak itu, Ayahnya tanya lagi “Kenapa?”, sang Anak menjawab “Karena semua orang yang saya anggap buruk masih ada kemungkinan baik, sementara saya hanya melihat mereka, tetapi saya tidak bisa melihat diri saya sendiri, maka sayalah yang paling buruk”.

Saya sebagai manusia yang dianugerahkan oleh Allah kepada Orang tua saya, juga telah diajarkan hakikat manusia itu apa. Jika dikaji secara filsafat tentunya akan banyak cabang dan bisa saja tulisan ini menjadi sebuah buku, oleh karena itu saya akan mengemukakan pendapat saya secara umum saja.

Saya sangat senang apabila ada seseorang yang berdiskusi tentang manusia atau kemanusiaan, karena dengan saya berpartisipasi di dalamnya saya akan mudah memahami hidup saya sebelum memahami sebuah rahasia atau hidup orang lain. Jika manusia dengan mudahnya menyimpulkan manusia lainnya buruk, maka manusia tersebut adalah yang paling buruk. Misalnya anda beranggapan bahwa tetangga anda adalah seorang manusia berdosa besar, maka andalah manusia paling berdosa besar. Daripada seperti itu, lebih baik anda menganggap diri anda sendiri yang paling buruk (terlepas dari kalimat “Manusia adalah makhluk yang paling sempurna”). Kalau kata Emha sebagai Orang Jawa jika disuruh mencari makhluk yang paling buruk maka Ia akan langsung pergi tidur karena Ia sudah pasti tidak bisa. Karena prinsip Orang Jawa adalah “Iso rumongso, gak rumongso iso” yang berarti “Bisa mengerti, kalau tidak bakal bisa”. Yang mengerti keburukan setiap manusia hanyalah Allah (Tuhan), dan para malaikat saja, jika temanmu mengerti setiap keburukanmu dan terbukti benar, berarti temanmu suka mengintip di balik lubang pintu kamarmu.

Saya memang bukan pakar dalam hal ini, apa salahnya saya berpendapat dan menyampaikan, sebab kata Gusdur “Indonesia semakin hancur karena rakyat-rakyatnya tidak mau berpendapat”. Padahal di Indonesia diberikan kebebasan berpikir, dengan kebebasan berpikir tersebut akan terbentuk sebuah pendapat dan aspirasi masyarakat untuk menjadikan Indonesia semakin maju dan sejahtera. Kalau anda tidak berani berpendapat secara langsung, berpendapatlah lewat tulisan (opini, puisi, cerpen, dll) lalu kirimkan ke media massa agar pendapatmu dibaca kawan-kawanmu dan membukakan pemikiran yang buntu.

Tetapi jika anda memang mengetahui keburukan kawan atau saudaramu, saya belajar dari kata-kata Rumi bahwa “Dalam menutupi keburukan saudaramu, jadilah seperti malam yang gelap”. Mengapa demikian? Karena malam yang gelap membuat setiap manusia tidak bisa melihat apa-apa. Yang menjadi perumpamaan bahwa sebagai seorang manusia harus bisa menutupi keburukan saudaranya. Seseorang yang telah diamanatkan untuk menyimpan dan menutupi keburukan atau rahasia manusia lainnya harus mampu seperti malam yang menutup rapat tanpa pernah membocorkannya. Jika memang Anda merasa memiliki kelebihan dibandingkan dengan manusia lainnya jangan berusaha bahwa manusia lain mengetahui kelebihan anda, tetapi berusahalah untuk menyembunyikan kelebihanmu, seperti kata-kata “Sembunyikan ibadahmu, seperti menyembunyikan aib atau keburukanmu”.

Sebenarnya pada tulisan (opini) ini saya banyak menggunakan kutipan dari para tokoh. Dan tulisan ini kembali saya tutup dengan kata-kata Rumi yang dimuat dalam filsafat cinta – Jalaluddin Rumi, “Intelek manusia mampu menerangkan rahasia ini sampai sedalam-dalamnya bila digosok oleh cinta. Para ahli makrifat, para wali, yang merupakan “intelek dari intelek” akan mampu menerangkan rahasia ini pada seorang pencari”. Jadi jika Anda ingin dengan mudah mengetahui sebuah rahasia yang kecil hingga besar mulailah dengan cinta yang secara perlahan akan membawamu ke dalam jiwa, batin, dan pikiran orang-orang yang telah Anda cintai. Dengan cinta Anda bisa menemukan sebuah keikhlasan tanpa memandang air dan api, baik dan buruk, benar dan salah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *