MINIATUR SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA DALAM PEMIRA FBS UNESA

Gema.unesa.ac.id – Pemira Bem Universitas telah dilaksanakan serentak di selingkung wilayah UNESA, terutama di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) pada Rabu (21/03) pagi sampai sore, berakhir tepat pada pukul 16.00 WIB.

Pemira merupakan ajang demokrasi bagi para mahasiswa, kegiatan ini merupakan suatu bentuk pesta demokrasi yang harus dirayakan dengan penuh suka cita, pasalnya kegiatan seperti ini hanya ada satu kali dalam setahun. Jadi harus ditata secara rapi agar kegiatan ini bisa berjalan dengan sukses dan lancar.

Suasana di Pemira FBS terlihat ramai lancar, keadaan sangat kondusif, tidak terlihat gangguan dalam jalannya proses Pemira tersebut. Mahasiswa berbondong-bondong datang ke Joglo FBS untuk mempergunakan hak suaranya. Tidak lupa juga senyum ramah dari panitia membawa proses pemilihan tersebut. Akan tetapi di sana hanya terdiri dari satu TPS (tempat pemungutan suara), berbeda dengan tahun sebelumnya yang ada dua TPS. Tapi itu tidak menjadi masalah pada Pemira tahun ini. Satu atau dua TPS sama saja.Yang terpenting yaitu semua mahasiswa bisa menggunakan hak pilihnya pada Pemira ini.

Salah satu mahasiswa bernama Rendy Budi Kartika mengatakan, Pemira tahun ini adalah ajang belajar demokrasi bagi para mahasiswa, terutama saya. Kalau mau sistem demokrasi di Indonesia ini baik, maka belajarlah berdemokrasi dengan baik pula, dengan jalan yang benar, meskipun itu pada tahap yang rendah dulu, salah satunya yaitu pemilihan ketua BEM U ini. Dengan cara menggunakan hak pilihnya dengan sebaik mungkin saat memilih Paslon (Pasangan Calon) yang sudah menjadi pilihannya.

“ Kalau dibilang sulit sih pasti, karena kita semua kan belajar bersama-sama, saya pun belum pernah menjadi panitia sebelumnya, dan ini baru pengalaman pertama saya menjadi panitia. Pemira ini  yang menjadi kunci utama kan undang-undang dan harus sesuai, dan semua hasil ketetapan dari surat berita acara itu harus bisa dipertanggung jawabkan, jadi kita harus bisa mengambil matang-matang segala keputusan, jika redaksinya salah, maka makna yang akan dicerna oleh orang lain itu berbeda, “ Ucap Nurul Hidayat yang menjabat sebagai sekertaris di KPUR dan perwakilan dari FBS di KPUR.

Ternyata dalam pemira ini pun bukan hanya sebagai ajang pesta demokrasi mahasiswa, tetapi ada juga yang belajar berorganisasi ketika menjadi panitia. Dari urusan administrasi hingga undang-undang yang melandasi KPUR ini bekerja. Semua dilakukan sangat teliti, jika ada kekeliruan dalam administrasinya, bisa jadi jalannya pemira ini akan ada gangguan, baik  kecil ataupun besar, harus bisa diminimalisir sebaik mungkin, demi kesusksesan acara ini.

“ Iya pemira ini penting, ini kan ajang demokrasi, kita kan mahasiswa, jadi kita dituntut untuk belajar cara bagaimana kita dapat mengembangkan diri, misalnya kita mencalonkan ketua Bem,terus memilih mana yang terbaik untuk universitas kita di tahun depan, dengan terplihnya salah satu pemimpin yang akan memimpin organisasi tertinggi misal ketua BEM U, atau MPM, harus benar-benar kita pahami yaitu dengan pemira ini “ Ucap sekertaris KPUR Nurul Hidayat, mahasiswi jurusan Bahasa Jerman.

Bukan hanya menjadi ajang demokrasi, tapi Pemira juga sebagai ajang mengembangkan bakat tentang bagaimana suatu saat apabila ada Mahasiswa ingin mencalonkan dirinya di BEM U ataupun MPM, jadi ada sedikit pengetahuan tentang apa itu pemira, bagaimana cara mencalonkan dirinya, dan juga sebagai salah satu jalan untuk memajukan kampus agar bisa lebih baik ke depannya dengan memilih ketua dari organisasi mahasiswa yang tertinggi di kampus Unesa.

Setelah proses pemira berjalan, sekitar pukul 15.00 WIB, panitia mulai menghitung surat suara yang sudah masuk di kotak suara, dan hasilnya cuma 318 dari jumlah total mahasiswa 3981, itu mulai dari angkatan 2011 sampai 2017. Dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 120 surat suara dengan jumlah dua TPS, ada sedikit peningkatan jumlah suara dibanding tahun lalu, itu menandakan bahwa antusias mahasiswa lebih tertarik pada Pemira tahun ini dibanding tahun lalu. Persis seperti yang diungkapkan oleh sekertaris KPUR yang turut melakukan perhitungan jumlah surat suara. (ABS/dad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *