Kedua Calon Ketua BEM Unesa dari FIP

FIP UNESA Rabu (21/03) Semangat membara dengan penuh harap muncul dari wajah kedua pasangan calon Ketua BEM UNESA 2018. Uniknya tahun ini, kedua pasangan calon ketua BEM UNESA 2018 berada dalam naungan satu atap ketika menempuh ilmu pendidikan yaitu di Fakultas Ilmu Pendidikan. Sri Kurnia Abdi Pradhana atau biasa disapa Danang berasal dari jurusan Manajemen Pendidikan dan Ibnu Muamas dari jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan.

Abdi Pradana seusai memberikan hak pilihnya pada Pemira 2018

Pukul 13.57 di TPS Pendopo FIP UNESA,  calon ketua BEM UNESA 2018 nomor urut dua terlihat memberikan hak suaranya, disusul oleh calon ketua nomor urut satu memberikan hak suaranya pukul 14.15. Terpaut 18 menit dari keduanya saat memberikan hak suara.

“Ajang demokrasi tertinggi universitas menjadi ajang belajar yang baik dalam bidang kenegaraan. Hal ini akan bisa diukur peningkatan partisipasinya, dilihat dari tahun sebelumnya, tahun ini meningkat sekitar 30%. Harapannya pemira ini bisa menjadi jembatan estafet kepemimpinan yang lebih baik di ruang lingkup Universitas Negeri Surabaya. Siapapun yang menjadi Presma dan Wapresma semoga bisa amanah dan totalitas dalam berorganisasi” ujar Sri Kurnia Abdi Pradhana sore ini via Sosmed.

Ibnu Muanas (tengah) menunjukkan jari kelingking yang bertinta tanda telah memberikan suaranya pada Pemira 2018.

Begitu halnya pesan kesan pemira 2018 menurut Ibnu petang ini “Sangat berkesan karena berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, bahwasanya pada pemira kali ini saya tidak hanya menjadi pemilih, tetapi diberi kesempatan menjadi kandidat calon Ketua BEM UNESA. Pemira tahun ini juga berjalan dengan lancar dan tidak terjadi kerusuhan yang dapat mengganggu jalannya pemilihan.”

Siapapun yang menjadi Ketua BEM UNESA semoga dapat menjadikan kampus Unesa menjadi lebih baik tanpa perpecahan yang berarti antara kedua calon serta pendukung masing-masing. Sebagaimana ungkapan Sang Proklamator “Universitas adalah tempat untuk memahirkan kia, bukan saja di lapangan technical and managerial know how. Tetapi juga di lapangan mental, di lapangan cita-cita, di lapangan ideology, dan di lapangan pemikiran. Jangan sekali-kali universitas dijadikan tempat perpecahan” (Ulf/Sep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *