JANGAN HERAN DENGAN KEHIDUPAN

Oleh: Wegig Yhusa Tanaya

Tuhan sudah memberikan kodrat kepada manusia sebagai makhluk paling sempurna. Tapi nyatanya manusia itu sendiri yang meragukan kesempurnaan yang telah diberikan kepada Tuhannya. Mudah untuk memberikan contohnya, seperti ketika ada temanmu yang bilang bahwa “Aku jelek”, tentu saja itu sudah tidak menghargai apa yang diberikan oleh Tuhan. Tetapi bukan itu yang akan saya singgung pada pokok bahasan kali ini. Sebelumnya kenankan saya minta maaf jika tulisan ini menyinggung kawan-kawan dan pembaca yang saya cintai. Sebelum membaca ini silakan balas chat gebetanmu terlebih dahulu agar tidak mengganggu kontemplasimu, oke? Terima kasih.
Namanya kehidupan tidak terlepas dari kritik-kritik dan saran orang-orang di sekitarmu. Jangan sering bergumam jika orang di sekitarmu mengomentari kelakuanmu, jangankan orang lain, kawan terdekatmu saja juga sering berkomentar di belakangmu (saya termasuk orang-orang itu). Apakah saya dosa? Ada yang bilang dosa, ada pula yang bilang tidak, dan saya menjawab tidak! Mengapa? Karena saya ingin orang yang saya komentari menjadi lebih baik. Karena saya ingin orang yang saya komentari bermuhasabah, pun dengan saya. Tetapi jika jawabannya dosa, berarti para juri Indonesian Idol; American Idol; dan juri-juri lomba di sekolah atau kampusmu banyak dosanya. “Ahh saya tidak mau jadi juri deh, biar tidak memiliki dosa”, pasti kata-kata itu akan muncul ketika mengomentari orang adalah dosa. Asal tidak ikut campur tangan dalam masalahnya atau mengurusi hidupnya tidak apa-apa. Memang saya tidak banyak tahu tentang hakikat kehidupan apalagi tentang agama dan politik, memang saya tidak banyak tahu tentang sejarah dan masa depan apalagi tentang mantan-mantamu. Jika kamu takut pada orang seperti batu yang diam-diam menghanyutkan, bagaimana kamu bisa hidup di Negerimu dengan orang-orang seperti singa yang baru lahir di dunianya tetapi langsung menginginkan hasil buruan tanpa belajar dan minum air susu induknya. Perbanyaklah membaca agar kamu tahu bahwasanya kehidupan yang mengandung berbagai roh membutuhkan pengetahuan dan pengalaman. Bahkan harus dipersyarati oleh pengetahuan dan pengalaman tersebut agar kehidupan itu bisa terjadi.
Pada zaman sekarang ini, orang-orang cenderung menilai kehidupan dari satu sisi atau satu sudut pandang saja. Hal tersebut cenderung mengundang prasangka dalam diri setiap orang dan pikiran yang gelisah karena tidak adanya pemikiran yang luas. Padahal jika kita berpikir secara luas, kehidupan seseorang yang dianggap buruk belum tentu sepenuhnya buruk, contohnya ketika seseorang itu lapar, dia akan segera membeli makanan; ketika tubuhnya kotor, dia akan segera membersihkan tubuhnya dengan cara mandi (sudah poin plus, karena dia masih mengikuti jalan atau perintah Tuhannya: ketika dirimu lapar maka makanlah, ketika tubuhmu kotor maka bersihkanlah). Saya mengerti, menilai seseorang tidak semudah berkata “jancuk” di depan kawanmu, hanya saja jangan senang berprasangka kepada orang lain, meskipun dalam tujuan untuk waspada.
Dalam kehidupan tidak heran ketika setiap manusia selalu ingin berebut menjadi seorang pemimpin. Entah pemimpin Negeri, pemimpin organisasi, dan mohon maaf saya tidak membahas soal pemimpin rumah tangga. Untuk menjadi seorang pemimpin, pasti tidak terlepas dari yang namanya politik, apalagi bagi seseorang yang baru mengenal politik, pasti akan memburu dan haus akan kursi kepemimpinan yang membuat sistem pemerintahan semakin amburadul entah ke mana arahnya. Hal tersebut bisa diumpamakan seperti peribahasa “ bagaikan burung dalam sangkar”, ketika sangkar tersebut telah terbuka, maka burung yang lama dalam sangkar tersebut akan kebingungan ingin terbang ke mana sebab baru bebas dan mengerti dunianya yang baru.
Hidup ini kompleks, maka jangan kau persulit lagi, jangan kau buat ceritamu sendiri. Jika kau ingin cerita hidupmu berujung baik, fokus saja untuk berdoa, dekatkan dengan tuhanmu, tangkap kritik-kritik yang digumamkan kawanmu, jangan langsung murung, toh yang dilakukan kawanmu juga pernah kau lakukan pula. Adanya pemikiran-pemikiran sempit seseorang (kurangnya pengetahuan) yang menyebabkan timbulnya kesalah pahaman. Jangan risau kalau kau merasa pengalamanmu kurang, ayo ngopi bareng, kita diskusi, jangan malu-malu, jangan jadi macam politikus (terutama yang masih di kampus-kampus) yang selalu menganggap dirinya benar tanpa berkaca atau instropeksi letak kesalahannya di mana, asal jadi, tugas selesai tanpa ada revisi. Orang macam seperti itu perlu diseret lalu dicekoki kopi dan bersosialisasi. Untuk kawan-kawanku, adik-adikku, dan kakak-kakakku daripada jadi macam seperti itu, berorganisasi tapi lupa dengan tanggung jawab dan melupakan ketelitian, lebih baik tanpa organisasi tetapi berprestasi. Yang terakhir, jangan heran dengan kehidupan, ia terus berputar dan berubah pada waktu yang tak kau ketahui. Siang saja bisa jadi malam, panas bisa jadi hujan, ada pertemuan juga ada perpisahan, yang pacaran bisa jadi mantan, maka jangan heran dengan kuasa dan kebesaran Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *