Kunjungan Pendidikan Inklusif ke Universitas Brawijaya

Kunjungan Pendidikan Inklusif ke Universitas Brawijaya

FIP UNESA,Jumat (9/3). Kunjungan Pendidikan Inklusif ke Universitas Brawijaya oleh Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Kunjungan ini direkomendasikan oleh Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA yaitu Drs. Sujarwanto. M.Pd. “Kunjungan ini diasakan untuk menjalin tali silaturahmi antar kampus, serta menggali informasi mengenai praktik Anak Berkebutuhan Khusus di Universitas Brawijaya” ujar Sujarwanto. Sujarwanto b

ersama Dr. Karwanto, S.Ag., M.Pd. serta Khofidotur Rofiah S.Pd, M.Pd pun turut serta dalam dalam kunjungan tersebut. Slamet Thohari selaku Sekretaris PSLD Universitas Brawijaya mengatakan “Sangat jarang kita jumpai bahwa Dekan sendiri ikut serta dalam kunjungan seperti ini, saya selaku sekretaris di PSLD ini sangat tersanjung akan kehadiran Pak Dekan yang dapat meluangkan waktunya untuk hari ini”

Perlu diketahui, dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 11 ayat (1) “Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa deskriminasi”. Universitas Brawijaya merupakan salah satu perguruan tinggi  selain UNESA  yang menerima mahasiswa disabilitas untuk dapat menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Pusat Studi Layanan Disabilitas merupakan pondasi bagi mahasiswa disabilitas yang membutuhkan bantuan dalam proses belajarnya.

Pada tahun 2017, terdapat 32 mahasiswa disabilitas yang diterima di Universitas Brawijaya. Di UB sendiri ada sosok pendamping yang dapat mendampingi atau pun menolong mahasiswa disabilitas untuk dapat mengakses UB dengan mudah. Salah satu contohnya adalah mahasiswa yang mengalami tuna netra, yang oleh pendamping akan dituntun untuk dapat memasuki kelas dengan mudah tanpa harus kesasar. Pendamping itu sendiri tidak diberikan upah kerja atau bisa dikatakan mereka ikhlas melakukan tugas sebagai pendamping. Tetapi diberikan beberapa uang yang dapat digunakannya untuk membeli paketan internet (untuk tetap dapat berkomunikasi dengan mahasiswa disabilitas, misalnya untuk bertemu) atau pun cukup untuk dibelikan makanan.

Adanya peraturan bahwa UB dapat menerima Anak disabilitas merupakan kabar yang baik untuk siswa-siswi lulusan SLB ataupun Sekolah Inklusif lainnya. Hal ini dikarenakan mereka akan tetap bisa lanjut masuk ke perguruan tinggi, tidak hanya berhenti di tingkat SMA/SMK/MA – sederajat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *