APA SALAHNYA MENJADI MAHASISWA KUPU-KUPU?

Oleh: Al Afghoni

Apakah sobat termasuk mahasiswa kupu-kupu? Jika iya, tak perlu merasa minder atau rendah diri. Labeling konsep mahasiswa kupu-kupu atau kuliah-pulang kuliah-pulang digunakan untuk menyebut jenis mahasiswa yang dinilai kurang produktif dan tak bermanfaat. Eetts, tapi apakah itu benar kalau mahasiswa kupu-kupu itu kontraproduktif? Tokoh favorit saya, Pramoedya Ananta Toer, pernah berkata “seorang terpelajar (dalam konteks ini mahasiswa) harus adil baik dalam pikirannya maupun dalam tindakannya”. Mari kita telaah secara seksama tentang seperti apa sebenarnya mahasiswa kupu-kupu ini.

  1. Tidak berpartisipasi dalam organisasi

Para kupu-kupu ini sebagian besar memang tak terlibat dalam organisasi baik yang di wilayah internal, eksternal maupun kedaerahan. Jika sobat lihat mahasiswa yang aktif dalam organisasi tak jarang harus melimpahkan tenaga dan waktunya untuk kesibukan di organisasi, sampai seringkali mengorbankan perkuliaaan dan menunda waktu mengerjakan tugas kuliahnya. Positifnya jika menjadi kupu-kupu sobat akan memiliki waktu lebih banyak untuk mengerjakan tugas dan menenuki jurusan yang sobat geluti, misal jika sobat mengambil jurusan desain akan ada waktu yang banyak untuk mengasah kemampuan desain sobat.

  1. Ada waktu lebih untuk membaca

Sebagai mahasiswa membaca adalah kebutuhan yang pasti, dengan menjadi seorang kupu-kupu sobat lebih memiliki banyak waktu untuk membaca buku. Membaca bukan selalu diartikan membaca apa yang memiliki keterkaintan dengan jurusan sobat, Tapi juga membaca untuk mengaktualisasi pengetahuan umum. Pengetahuan umum ini tak jarang sangat berguna saat kita nanti hidup ditengah masnyarakat dan juga saat berada di dunia kerja. Buku-buku yang harus sobat baca tak selalu buku-buku yang bersifat formal dan membosan itu, boleh juga buku seperti novel yang seringkali ada juga pengetahuan umum yang diselipkan.

  1. Fokus mengembangkan minat dan bakat

Mengembangkan minat dan bakat adalah hal yang penting, dalam hal ini fokus adalah kata kuncinya. Misal jika sobat beminat dalam dunia teknologi digital maka sobat dapat fokus terus mengasah pengetahuan dan kemampuan tentang teknologi digital. Berbeda cerita jika sobat belum mengetahui minta dan bakat sobat, untuk dapat mengetahui minta dan bakat sobat bisa mencoba  metode psikologi yang dapat sobat cari di internet. Kemudian, apakah jika kita berorganisasi kita tidak dapat mengembangkan bakat dan minat? Memang jika kita berorganisasi kemampuan dan pengalaman kita akan berkembang, tapi akan sobat dapat benar-benar fokus mengembangkan minat dan bakat di dalam organisasi?.

  1. Telalu banyak main-main

Waktu kosong yang banyak ini menjadi cobaan tersendiri, kadang-kadang dengan waktu yang berlimpah ini hanya digunakan untuk hal-hal yang kontraproduktif (misal: bermain game dan media  sosial secara berlebihan). Tak salah memang bermain-main tapi jangan sampai waktu yang dialokasikan untuk bermain lebih banyak dari waktu yang dialokasi pada kegiatan-kegiatan yang produktif.

Intinya marilah kita sama-sama mengingatkan dalam kebaikan dan tak merendahkan jalan hidup yang dipilih oleh teman-teman kita. Menjadi seorang mahasiswa kupu-kupu atau menjadi mahasiswa yang memiliki penggaweaan rapat adalah pilihan, namun perlu diingat dalam setiap pilihan sobat juga harus menjalankannya dengan pernuh rasa tanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *