MEDIA SOSIAL, KEDAULATAN NETIZEN, DAN KETAHAN HIDUP KERE

Dunia berjalan, seakan telah melampaui perkiraannya sendiri. Sebagian besar aktivitas manusia dewasa ini tidak lepas dari teknologi. Orang-orang semakin tanggap dan kritis terhadap isu-isu terbaru. Dan tidak dipungkiri media sosial berperan di sana. Orang-orang dengan mudah dapat mengekspresikan segala bentuk pemikiran, ide, gagasan, termasuk keisengan dan hal-hal yang bersifat eksistensial dengan mudah. Bahkan sangat mudah. Manusia semakin aktuil, dan semesta agaknya menyepakati itu.

Kalau dulu sewaktu sekolah menengah kita diajari tentang tingkatan kebutuhan manusia yang meliputi kebutuhan primer, sekuder, baru tersier. Mungkin kita bisa katakan saat ini media sosial menempati posisi supra-primer. Di atas segala yang primer. Wowowo

Diakui, dan memang harus diakui. Demi membiayai jatah bermedia sosial kadang kita rela mengalihfungsikan biaya sehari-hari, mengutil jatah makan, menilap anggaran bayar kos, atau yang lebih ekstrem menggelapkan dana servis motor sekaligus ganti oli. Gusti.

Padahal data pengguna media sosial mayoritas adalah kalangan muda, yang sebagian besar tentu dalam fase pengembaraan menemukan jati diri — sebagai pengungkapan versi halus golongan nir-penghasilan, alias pengangguran, alias kere. Gusti pindo.

Setelah pengorbanan di atas lalu dampak apa yang diperoleh dari bermedia sosial ? Tentu saya tidak serta merta menyebutkan bahwa semua pengguna media sosial sesuai dengan uraian di atas, tidak sama sekali. Uraian di atas merupakan satu dari sekian alasan pengguna media sosial. Sebab saya percaya masih banyak alasan seseorang menggunakan media sosial yang pastinya pula memiliki maksud baik dan bernilai kebermanfaatan.

Mari kita menyebut satu kata yang akhir-akhir ini sedang naik daun, yakni netizen. Setiap kelompok penggiat hal tertentu pastinya memiliki sebutan-sebutan sebagai simbol atas keberadaan mereka. Begitu pula dengan istilah netizen, sebutan bagi pengguna media sosial. Khususnya mereka pengguna media sosial yang aktif dan progresif. Lebih khusus adalah mereka yang paling aktual dan responsif terhadap isu-isu terbaru, meski tidak sedikit yang impulsif. Dan paling khusus lagi mereka yang dikaruniai kemampuan, kemauan, dan tentunya waktu yang memungkinkan mereka mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mempertahankan diri di kancah dunia maya.

Satu hal yang menarik di sini, keberadaan netizen ini kemudian menciptakan sebuah kesadaran baru bahwa mereka sesungguhnya memiliki alasan kuat yang semestinya membawa mereka pada keadaan setara. Memposisikan diri sebagai oposisi akan sikap, pikiran, dan kebijakan yang berpotensi bertolak belakang dengan nilai-nilai normatif masyarakat mainstream. Pada satu poin perlu disepakati bahwa ada kesamaan semangat di sana. Yang semestinya dapat menyatukan mereka kemudian menjadi semacam kekuatan untuk berdaulat.

Benar. Kesadaran itu secara natural telah tumbuh dan terbentuk, bahkan sebelum pemikiran soal itu muncul. Namun sayangnya dengan bermacam fenomena dan isu yang muncul ke permukaan ditambah lagi dengan maraknya berita-berita hoax secara tidak langsung mendorong istilah netizen mengalami degradasi makna. Diksursus-diskursus publik saat ini seakan menyudutkan posisi netizen sebagai biang kerok, kumpulan orang kurang kerjaaan, tukang nyinyir dan tentunya mayoritas dari mereka adalah kere. Oh.

*Nugroho Adi. Pemerhati netizen, dan penganut mazhab gali lubang tutup lubang garis keras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *