DISKUSI NO, INSTASTORY YES?

Melihat dunia kampus hari ini, satu dari sekian kenyataan yang agaknya dapat kita sepakati adalah keberadaan forum diskusi yang semakin sulit dijumpai. Bayangan saya akan suasana sekelompok mahasiswa sedang beradu argumen dan saling melempar sanggahan sudah makin menipis. Bahkan benar-benar hilang.

Tentu ini sekadar asumsi, saya belum ngecek di kampus-kampus lain. Namun citraan yang sejauh ini saya tangkap cukup meyakinkan, bahwa budaya diskusi terutama di lingkungan kampus telah dipandang sebagai tradisi purba.

Hal ini dapat dilihat dari fakta yang menunjukkan selama ini mahasiswa gagap terhadap permasalahan sosial. Sebagian besar mahasiswa selalu gagal mengambil sikap sosial. Tapi rajin update instastory.

Mahasiswa seakan-akan berada di ruang seberang yang kedap suara dan realitas. Jarak ini diperkuat dengan model berpikir yang melulu futuristik, serba masa depan, tapi justru nihil untuk hari ini.

Oleh kondisi tersebut akibatnya mahasiswa terlalu mudah abai terhadap isu-isu sosial terutama yang menyangkut kebijakan pemerintah. Termasuk di dalamnya kasus-kasus yang menyasar pelanggaran lingkungan dan sslaras kehidupan.

Peran diskusi semestinya ada di sana. Dasar diskusi yang menuntut setiap individu mempunyai banyak pengetahuan atau pandangan atau minimal uneg-uneg adalah wadah bagi masing-masing pengalaman itu untuk disampaikan kemudian menjadi fokus bersama. Wadah bagi berbagai sudut pandang dipertemukan untuk kemudian memperoleh satu konklusi baru.

Diskusi menjadi, dalam bahasa sedikit pongah adalah oase. Tempat menemukan titik persoalan dari setiap kejanggalan untuk kemudian menjadi alternatif bersikap, baik dalam tindakan maupun berpikir.

Sayang, kesadaran semacam ini yang hari ini nampaknya tidak disadari. Jelas banyak faktor yang melatarbelakangi sehingga diskusi kampus tidak lagi menarik dan patut ditinggalkan.

Namun bagi saya faktor utama merosotnya minat mahasiswa terhadap forum diskusi adalah pragmatisme mahasiswa. Paradigma yang menyebutkan sesuatu itu baru berguna apabila bermanfaat secara langsung.

Sekarang mahasiswa menimbang-nimbang kegunaan diskusi secara langsung. Diskusi tampaknya hanya pembahasan yang jauh dari kehidupan keseharian. Diskusi juga dipandang tidak mampu memberi manfaat karena tiadanya keuntungan materil. Tidak bikin kenyang apalagi bayar utang.

Ini menyebabkan mahasiswa lebih memilih kegiatan yang menyenangkan daripada berdiskusi. Jalan-jalan, bikin instastory, main ke mall, bikin instastory. Kegiatan minim berpikir lebih disukai daripada berkutat pada pembahasan yang membutuhkan pemikiran.

Jika persoalan ini dibiarkan berlarut (maksudnya merosotnya forum diskusi bukan soal update instastory) maka peran mahasiswa akan luntur. Gerakan mahasiswa akan lumpuh. Kepekaan sosial makin hilang. Duh, jangan sampai ya. (NA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *