LARIS MANIS JARGON RESPONSIF

Oleh : Nugroho Adi (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Sebagaimana dinamika kehidupan kampus yang selama ini kita pahami. Berbagai agenda yang berorientasi kepada kegiatan kemahasiswaan mampu menyita perhatian. Setidaknya begitu, sekalipun tidak selalu secara mutlak, entah sebagai relawan, sekadar mengikuti perkembangan dari berita, atau tahu secara sepintas dari pergunjingan di warung kopi pojok gang.

Begitu pula dengan Pemira. Secuek-cueknya dirimu wahai kisanak, sekali dua kali pasti perbincangan seputar itu tertangkap oleh pendengaranmu. Memang akhir-akhir ini sedang ramai istilah yang akrab disebut-sebut sebagai pesta demokrasi mahasiswa itu. Media sosial, terutama akun-akun resmi badan kemahasiswaan sedang gencar-gencarnya menampilkan sosok-sosok yang didaulat sebagai pasangan calon. Tujuannya jelas, mengenalkan wajah-wajah itu kepada khalayak mahasiswa.

Di antara gegap gempita berbagai bentuk yang boleh disebut sebagai kampanye itu, ada satu hal yang sekiranya perlu dicermati dan layak menjadi perhatian bersama. Adalah fenomena penggunaan jargon-jargon bernada optimis namun sebagian besar merupakan idiom tindakan responsif. Mari kita bedah bersama-sama.

Dalam politik praktis, jargon sering digunakan sebagai bentuk representasi garis-garis besar visi dan misi yang hendak diusung untuk kemudian ditawarkan kepada calon pemilih. Sudah barang tentu masing-masing kandidat senantiasa berusaha penuh menampilkan serangkaian semangat baik yang dalam kasus ini direpresentasikan melalui kata-kata atau frasa berbentuk jargon tersebut.

Yang menarik adalah, ada sebuah pengamatan yang nampaknya luput bawasanya jargon-jargon yang seolah gagah dan meyakinkan itu rata-rata bersifat responsif. Atau dengan kata lain sebatas berorientasi pada sikap berupa tanggapan terhadap keadaan yang sedang terjadi. Sama halnya ketika kamu lapar maka kamu akan makan, ketika ngantuk maka tidur, ketika uangmu habis maka utang, begitu.

Sedangkan ini jelas kontradiktif dengan semangat yang semestinya diampu oleh badan-badan kemahasiswaan yang sedari awal mendapuk dirinya sebagai eksekutif.

Akibatnya tidak sedikit daripada jargon-jargon itu yang membuat saya mau tidak mau harus nyengir. Tentu saya tidak ingin skeptis, apalah saya ini yang bisanya cuma berkomentar ini itu tanpa punya andil konkrif. Tapi begini, sedikit banyak kecenderungan ini tentu mencerminkan, akan seperti apa pola berorganisasi ke depannya, saya berani bilang cara berpikir dengan poros tindakan-tindakan responsif semacam ini tidak baik. Tidak menjamin adanya kebaharuan, inovasi kebijakan apalagi program-program gebrakan akan sangat kurang, sedang iklim berdialektika sama sekali nihil.

Program kerja hanyalah tongkat estafet yang sekiranya perlu dituntaskan, sebab ini merupakan tolok ukur keberhasilan. Sekali lagi responsif, maka hasilnya tentu saja seperti yang dulu-dulu, yang selama ini kira rasakan, eh gak ada ya. Tuh kan lagi-lagi saya jadi skeptis.

Secara serampangan kita dapat mengira-ngira, gerangan apa yang sekiranya menginisiasi penggunaan jargon-jargon yang meskipun nir-perenungan tapi ajaibnya tetap laris manis. Pertama, kegagalan menafsirkan kata secara harfiah selain bahaya tentu rentan menggiring pada kesalahpahaman. Cobalah unduh aplikasi KBBI dan pahami pelan demi pelan kata-kata yang sekiranya ingin diambil sebagai perwakilan dari semangat teman-teman sekalian. Kedua, adanya ketidakmampuan memadukan visi dan misi dengan kata yang hendak dijadikan sebagai representasi. Ini berhubungan dengan hasrat para calon untuk menampilkan jargon yang sarat kesangaran namun malah salah kaprah. Ketiga, keinginan untuk abai pada detil. Ini menjadi masalah kita bersama, satu titik yang menurut kita tidak sesuai dengan keyakinan dan selera lantas mempengaruhi segala-galanya, kita menjadi tidak peduli, dan seakan-akan tidak menjadi bagain daripada dialektika ini. Keempat bisa jadi ini sengaja dan secara sadar memang berangkat dari kemampuan dan pemikiran seadanya. Bisa jadi.

Selebihnya tentu usaha-usaha itu bertujuan pada kebaikan. Semangat berdaulat dan keinginan posistif guna menciptakan kehidupan kampus yang berorientasi pada kemajuan bersama. Berbagai bentuk ketidaktepatan yang muncul sekiranya bagian dari proses yang tentu akan semakin ideal ke depan. Semoga. (NA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *