WILAYAH KITA SEBAGAI PASAR KEKUASAAN ATAU KEPEMIMPINAN

Ilustrasi : cerpen.co.id

Oleh :  Ahmad Baharuddin Surya (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Baru saja pesta demokrasi di kalangan mahasiswa berlangsung, ada yang sudah terlaksana, ada juga yang akan terlaksana. Khususnya di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), beberapa hari yang lalu, mahasiswa selingkung Fakultas Bahasa dan Seni merayakan pesta demokrasinya dengan sukacita, dari pemilihan Pimpinan kelas, ketua himpunan mahasiswa jurusan sampai ketua badan eksekutif mahasiswa tingkat fakultas. Dari sekian banyak mahasiswa di sana, tentu hanya orang-orang yang berani bertanggung jawab secara moril, mental dan tenaga untuk menyerahkan dirinya ke kedudukan semacam itu.

Banyak yang harus dikorbankan ketika dirinya sudah menduduki jabatan di posisi tersebut. Pertarungan pendapat, pertarungan visi dan misi sudah pasti terjadi, pasalnya ketika ada dua orang atau lebih dengan pengetahuan cukup kuat dan mereka bersaing untuk sesuatu tujuan yang ingin dicapainya, maka secara tidak langsung untuk berjalan ke posisi tersebut, harus direnggut dengan peperangan intelektual serta pemikiran lugas dan meluas. Siapa yang menang dia yang berkedudukan, siapa yang kalah, berarti dia masih disayang Tuhan, Tuhan masih memberinya cobaan kepadanya, sehingga mau tidak mau yang dilakukan hanya lah sabar dan ikhlas menerima keadaan kalau memang realitanya seperti itu.

Yang menjadi objek perhatian adalah mengenai perebutan pemimpin, kenapa jabatan seorang pemimpin itu harus direbutkan, dia mau jadi pemimpin atau penguasa. Apa esensi dari pemimpin dan penguasa. Ini ada sekadar cerita, dulu waktu SD, saya masih semangat-semangatnya belajar mengaji di sebuah TPQ kecil sekitar rumah. Ada guru saya bilang, kalau tidak salah seperti ini, entah ini kutipan Hadist atau Al-Qur’an, mohon maaf saya juga tidak terlalu pintar soal Agama, tapi kurang lebih bunyinya seperti ini “Rosulullah tidak pernah melarang kalian menjadi seorang pemimpin, kecuali dia yang menawar-nawarkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin” pesan tersebut masih saya ingat betul-betul, meskipun implemestasinya saat ini sangatlah sulit dilakukan. Kalimat itu sudah jelas ada semacam kontradiksi, jika dilihat dari pengalaman-pengalaman yang sudah dialami belakangan ini.

Kalau menurut presepsi yang saya lakukan, mungkin di kalimat “Rosululloh tidak pernah melarang kalian menjadi seorang pemimpin”, di situ ada sebuah penegasan keterkaitan tentang manusia di bumi ini, setiap manusia memang sudah diwajibkan untuk memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain, artinya memperbaiki diri dulu sebelum memperbaiki ke wilayah yang lebih luas. Kodrat sebagai manusia adalah kebebasan, Tuhan menghendaki beberapa persen kemerdekaannya untuk manusia, selebihnya segala sesuatu di lain hal itu, Tuhan lah yang menghendaki kedaulatannya. Tapi terkadang kita sebagai manusia justru terlalu sering bermain kedaulatan kita sendiri, kedaulatan ditawar-tawarkan kepada orang lain, nanti sudah ada keterikatan, kemudian mengeluh. Ini yang sering terjadi, kita tidak sadar mengenai hal itu semua. Kita sendiri yang menawarkan, tapi ketika kita lelah, justru kita sendiri yang mengeluh. Ini bisa jadi sebuah paksaan, tapi kita tidak sadar kalau itu adalah semacam pilihan yang notabenenya paksaan dalam memilih satu atau dua.

Analoginya bisa seperti ini, kalau kita disuruh memilih, “pilih mana jadi orang jahat atau jadi orang baik ?”, di situ ada dua kata sifat antara baik dan buruk, secara sadar ketika ada kata sifat baik dan buruk, tentu yang kita pilih adalah kata baik. ketika ada pilihan baik dan jahat, kenapa kita tidak memilih yang baik saja, kenapa kok harus ada manusia yang memilih jahat, itu yang salah indikator pilihannya atau kita sebagai manusia yang memilihnya.? Oleh karena itu, kita tidak sadar padahal setiap hari kita sering dihadapkan suatu pilihan terus menerus seperti itu. Suatu pilihan ketika harus dihadapkan kepada kita, maka kewajiban kita adalah memilih, kita berjalan di antara pilihan dan memilih. Semua pilihan adalah baik, tidak ada pilihan yang buruk, bergantung kualitas dan momentum saat memilih pilihan tersebut. Kalau kita sudah memilih, tugas yang harus dilakukan adalah berjuang, berproses, evaluasi, perbaikan dan saling mengerti antara keseimbangan, ada baik pasti ada buruk, kalau ada sebab pasti ada akibat, kalau ada pertanyaan, pasti ada juga jawabannya.

Sedangkan untuk kutipan kaliamat yang kedua yaitu “kecuali dia yang menawar-nawarkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin” analoginya seperti ini, jika dilihat dari prespektif sosial budaya, lebih enak mana, ketika ada orang minta tolong, kita diminta untuk menolong atau kita sendiri yang menawar-nawarkan diri kita untuk menolong, padahal belum tentu kita diminta untuk menolongnya. Kalau secara kemurnian, itu baik sekali, sangat mulia, akan tetapi jika secara wajarnya ada ketidak pantasan sedikit mengenai presepsi seperti itu. Etisnya kan ketika sudah mencakup wilayah sosial buadaya, kita harus bisa menjunjung, saling menghargai sesama manusia, baik itu tutur kata, unggah ungguh (sopan santun), dan dalam hal komunikatifnya. Dari beberapa indikator tersebut jika dapat dimengerti, maka untuk menetukan pantas atau tidaknya kan kita sebagai manusia sudah mengerti.

Secara lebih luas, sebenarnya manusia itu mau gak sih dipimpin, risih gak sih kepada orang yang menawar-nawarkan dirinya untuk memimpin kita. Masa, kita lagi duduk-duduk, lalu ada orang yang mengahmpiri sambil berkata “Mau tidak, kamu saya pimpin, nanti enak lho, kamu akan makmur, kamu akan bahagia bersama keluargamu”pantas atau tidak ketika ada orang menawarkan dirinya seperti itu. Jadi pemimpin itu baik mana, ditawar atau menawar. Kalau ditawar kan kita seakan-akan menjadi barang atau objek yang ditawar, akan tetapi ketika dihubungkan dengan kepemimpinan, pasti tawarannya bisa berbunyi seperti ini “ Mending kamu saja deh yang menjadi pemimpin, di antara kita saya rasa kamu cakap untuk memimpin hal semacam itu ”. di kalimat itu kita yang ditawar, kita yang seakan-akan dipilih, bukan kita yang mengajukan atau menwar-nawarkan.

Ada kalanya bahasa itu butuh pemaknaan yang luas, jika pemaknaan kepada bahasa terlalu sempit, bisa jadi kita sebagai sumber bahasa, tokoh bahasa, salah kaprah dalam mengartikan bahasa kita sendiri. Pengalaman sosial dan berkomunikasi serta penghayatan merupakan salah satu sumber pemaknaan yang luas. Perlu juga kesadaran terhadap makna bahasa tersebut ditingatkan, melalui pengalaman membaca kita, baik itu membaca buku, suasana, situasi, kondisi dan sebagainya. Manusia bisa dipintarkan dengan bahasa dan juga bisa dibodohkan dengan bahasa, tentunya melalui semantik atau makna bahasa itu sendiri. (Dad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *