Buruh Jangan Ngeluh

Oleh : Danita Astri Utami

Baju putih lengan pendek berkerah, celana kain hitam lebar, dengan jilbab putih agak pudar. Baju dinas harian pekerja training yang membosankan.

Namaku Danit. Aku seorang buruh di salah satu pabrik tekstil di Sukorejo, Jawa Tengah.  Awal mula aku kesini yaitu ketika lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan di Bojonegoro. Besar sekali keinginanku untuk kuliah. Setiap pulang dari sekolah pasti menceritakan universitas A bagus, kuliah di kota B kelihatannya enak. Orangtua di rumah hanya mengiyakan saja. Setelah beberapa minggu kemudian orangtua berbicara dengan pelan bahwa jika, kuliah tidak ada biaya karena, kakak juga masih menempuh pendidikan sarjana di surabaya dengan biaya yang cukup mahal juga. Dari sana mulai turun semangat belajar, motivasi untuk kuliahpun sudah hilang. Jadi, ketika menjelang UNAS ada pengajuan untuk mahasiswa kurang mampu mengurus persyaratan menempuh TES SNMPTN (S,,,,), Tes tersebut persyaratannya hanya menyerahkan nilai rapor saja. Dan banyak dari temanku yang berminat melanjutkan pendidikan mengikutinya. Sebenarnya ini kesempatanku untuk membuktikan kepada orangtua dan keluarga bahwa aku benar-benar ingin kuliah.  Tetapi, ketika ku ingat perkataan orangtuaku benar-benar sudah turun mentalku untuk membayangkan duduk di bangku perkuliahan. Jadi, seperti mimpi yang tak akan sampai….

Membayangkanpun begitu sakit…

Meraihnya tanpa didukung itu berat…

Beban terkumpul, diri ditekan…

Mencoba menerima keadaan dengan tetap mendaftar SNMPTN, kuisi kolom Jurusan sesuai dengan minat diri. Meskipun ketika diterima nanti tidak akan aku masuki.  Tidak kuceritakan kepada siapapun termasuk orangtua, hanya menyenangkan hati.

Beberapa hari setelah UNAS dan Tes diumumkan. Hal yang aku syukuri aku lulus dan mendapatkan nilai yang cukup baik. Sedangkan tes SNMPTN tidak ada satupun yang diterima. Beberapa bulan setelah UNAS teman-teman yang lolos mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi dunianya yang baru. Beberapa ada yang tidak lolos dan sibuk belajar untuk tes masuk perguruan tinggi ada juga yang menyibukkan diri untuk bekerja, menikah, dan lain-lain.

Begitupun aku. Kuputuskan diriku untuk bekerja di salah satu Pabrik Tekstil di Sukoharjo, Jawa Tengah. Saat itu aku diantarkan orangtua berangkat sampai ke depan Pabrik. Semua berkas lamaran kerja sudah kusiapkan. Termasuk seragam ketika melamar pekerjaan pada umumnya. Setelah bertanya mengenai riwayat pendidikan, pengalaman bekerja, skill, bakat maupun minat. Pada pertanyaan akhir, kurang lebih pertanyaannya seperti ini

“Kesini masuk sama siapa?” tanyanya.

“ Sendiri, pak” jawabku

“Gak ada kenalan orang pabrik?” tanyanya lagi

“Tidak, Pak” jawabku mengakhiri

“Yasudah kamu ke Garment 10 saja ya” katanya

Saat itu aku berangkat sendiri tanpa ada kenalan orang dalam dari saudara maupun teman. Ya, kusyukuri apapun itu yang penting aku bisa bekerja. Setelah proses wawancara selesai aku disarankan untuk ke mess saja karena karyawan luar kota juga agar menghemat biaya. Diantarkannya aku dengan mobil bapak bagian administrasi tersebut didampingi keduaorangtuaku. Sampai di mess ditempatkan aku di kamar nomer 10. Bersama 2 orang buruh pabrik. Tiba saatnya orangtuaku melepas diriku untuk tinggal disini. Tidak tahu sampai kapan. Hatiku merasa sakit, aku tak bisa menahan kesedihan.Setelah orangtua pulang, aku menuju kamar dan menutupi wajahku dengan bantal. Banjir air mata kasurpun juga terkena cipratannya. Tidak ada yang kukenal disini. Mungkin aku hanya butuh penyesuaian beberapa hari.

Hidup di mess pabrik sendirian. Dilengkapi kasur empuk  tak berselimut. Tidur di dekat jendela yang tak bisa ditutup. Tak heran jika, tangan bergeriliya di malam hari mensmash kulit yang disiksa oleh serangga berbintik.  Satu bantal tak cukup menutupi badan. Terkadang baju lebarku jadi korban.

Dilengkapi 2 lemari terbuka tanpa kunci. Terdapat satu televisi yang dibawa dari rumah milik salah satu pekerja. Air bersih jarang didapati. Antri mandi, cuci, selalu menjadi kebiasaan hari-hari. Setrika baju kudu diam-diam ambil di laci agar tidak dicaci. Di awal bulan aku diberikan pelatihan bersma teman-teman yang sudah melalui tahap wawancara.Selama seminggu aku diajari menjahit dan membuat pola garis lurus.

Seminggu berikutnya aku sudah ditempatkan bekerja di Garment 10. Disambut baik oleh pekerja pabrik disana. Mencoba akrab mulai ditanyai tentang asal, umur, dsb. Pekerjaan pertama yang kudapat yaitu memotong pola kain. Saat itu aku disediakan tempat duduk juga. Mungkin anak baru masih butuh adaptasi dengan kondisi pabrik. Setelah projek baju ini selesai sekitar setengah bulan. Hari selanjutnya aku bertugas untuk mencocokan kain untuk dijahit. Hanya membantu tugas penjahit. Hari itu terasa berbeda karena, tidak ada kursi yang disediakan oleh Ibu Pengawas.

Selain karena kaki yang semakin hari tidak kunjung sembuh. Seminggu setelah gaji keluar sekitar pertengahan bulan Februari. Aku mengundurkan diri dari Pabrik Tekstil tersebut dengan tidak mengubungi bagian administrasi. Alasan lain aku mengundurkan diri karena, gaji yang tidak seberapa, jarakpun juga rermasuk alasan kenapa aku harus mengundurukan diri. Aku masih ingin untuk melanjutkan pendidikan lagi. Aku tidak ingin terus-terusan menjadi buruh. Mantan buruhpun harus memiliki masa depan cerah.

Pagi sekitar jam 5.00 WIB kukemasi barang-barangku selain sabun cuci agar bisa dipakai untuk penguni mess lainnya. Ada beberapa buruh pabrik yang sudah bangun entah makan, beli sarapan, mandi atau beribadah. Saat itu salah satu penghuni kamarku sudah bangun sedang bersiap untuk bersih diri.  Aku lupa namanya Ibu siapa yang jelas beliau lebih tua dariku, berambut cepak juga salah satu penghuni mess yang paling lama bekerja. Beliau juga membawa tv miliknya untuk digunakan saat jenuh seharian bekerja. Setiap minggu ibu ini selalu dijemput suaminya di depan gang mess, karena sudah berkeluarga dan harapan ke depannya bisa memiliki seorang anak. Melihatku rapi membawa tas besar, mengenakan masker juga kaos kaki temtunya beliau kaget. Apalagi kaki yang sedang bengkak ini menjadi tujuan utama pandagan matanya berlabuh.

“ Mbak Danita belum sembuh, ya?” tanya si Ibu

“Belum, bu” jawabku

“Mbak Danita mau pulang ?” tanyanya lagi

“Iya, bu takut sakitnya tambah parah” ku jawab lagi

“yasudah hati-hati, ya naik apa ?” kata Ibu

“naik bis, bu. Berangkat dulu ya, buk. Salam sama mbak Lia kalau sudah bangun nanti” jawabku dengan mengakhiri percakapan dan langsung meminta doa restu Ibu untuk pulang dan diberikan kesembuhan. Sambil berjalan seperti orang yang “pincang” ku bertemu dengan banyak buruh pabrik di jalan. Hmm, dalam hati aku sangat sedih sekali meninggalkan banyak orang-orang baik di sini. Tetapi, kaki yang semakin bengkak ini jika tidak diobati aku takut akan bertambah parah dan ada hal buruk yang menimpa diriku.

Sayangnya kota ini penuh dengan keramah-tamahan penduduknya yang berat sekali untuk kutinggalkan. Benar-benar dikenal ramah, lemah lembut. Jawa sekali ya memang di Jawa…

Sembari berjalan menuju tempat bis berhenti aku melewati jalan yang kulewati menuju pabrik. Ada Rumah Makan Soto yang murah sekali hanya Rp.2.500 beberapa meter dari pabrik jaraknya. Tidak begitu jauh. Benar-benar pas dengan kantong para buruh pabrik. Selain itu ada Toko kelontong yang menyediakan snack, perlengkapan mandi, memasak, pulsa dll dimana seringkali menjadi tempat wajibku berhenti selesai pulang dari pabrik.

Ada saja yang kurang, shampo, sabun mandi, minyak wangi, botol minum, sampai sikat baju. Banyak sekali yang kubeli karena aku baru sekali merasakan kehidupan jauh dari orangtua. Semuanya kulakukan sendiri dan tidak banyak barang-barang yang kubawa dari rumah selain baju, mukena juga uang tentunya.

Hari itu masih pagi sekali ada buruh pabrik yang berangkat, ada pula yang baru pulang dari pekerjaannya. Biasanya di bagian pemintalan yang memiliki 3 shift setiap harinya. Enaknya ada satu hari libur dalam seminggu. Lumayan bisa pulang bagi yang rindu kampung halaman. Di bagian ini gaji yang diberikan tidak begitu tinggi, tidak begitu rendah juga. Berada di tengah-tengah. Sedangkan gaji yang paling tinggi yaitu di bagian Garment, bagianku. Kegiatan di dalamnya selain menjahit, juga membuat pola atasan/bawahan, menyetrika baju dan memotong kain. Lebih tinggi karena membutuhkan skill khusus yang perlu pelatihan terlebih dahulu jika, ingin masuk ke dalamnya.

Tidak lupa bertemu Kakek Tua si Penggembala Sapi. Serasa sedang merasakan berada di tengah hutan yang memiliki banyak jebakan untuk sesorang yang ingin berniat jahat ketika memasuki hutan tersebut. Jalan yang masih beralaskan tanah ini setiap hari selalu dipenuhi kotoran sapi si kakek. Pernah ketika aku berangkat bekerja. Sapi tersebut berjalan di depanku dan mengeluarkan aroma busuk hasil dari kotoran yang berjatuhan di sepanjang jalan. Hal tersebut membuatku mengeluarkan strategi untuk melewati rintangan di pagi itu. Kadang kena, kadang tidak hmmm, sepatuku jadi korban karena, sisa kotoran tersebut menempel di alas sepatuku.

Selalu senyum, logat bahasa jawa khas solo yang masih terbawa dan masih terbawa ketika aku sudah sampai daerah kelahiran.  Setelah beberapa menit menunggu, bis jurusan Terminal Solo terlihat dari jauh. Kuposisikan diriku berada lebih dekat dari jalan raya dan mulai melambai-lambaikan tangan menunjukkan butuh tumpangan. Bispun berhenti dan Alhamdulillah dapat tempat duduk meskipun hari itu bus penuh sekali, dikarenakan banyak yang pergi ke sekolah, berdagang maupun mencari nafkah. Sesampainya di Terminal Solo aku mulai mencari bus jurusan Ngawi . Selanjutnya naik bus jurusan Bojonegoro dan sesampainya di Bojonegoro pindah bis lagi jurusan Nganjuk. Sekitar 4x  naik turun bus dengan memakan waktu 8jam baru sampailah aku di halaman rumah yang selalu kurindukan.

Pertengahan Februari hari aku meninggalkan pekerjaan, juga hari dimana motivasi untuk mengenym pendidikan lagi meningkat. Beberarpa hari di rumah aku merasa sangat bersalah, sangat lelah, merepotkan orangtua saja. Kaki yang masih bengkak ini mendapat perhatian sangat besar oleh Ibu. Setiap pagi dan sore dibuatkannya air panas lalu dimasukkanya ke dalam bak dan diberikan sedikit air dingin agar terasa hangat nanti dikaki.

Seharian hanya menonton tv, minum obat dari dokter juga memberikan pengobatan terhadap kaki ini. Bapak juga banyak mengingatkanku dengan mimpi-mimpi kecilku yang belum kupenuhi karena melihatku semakin hari semakin lemas, seperti seorang yang tidak memiliki motivasi hidup. Memang hal tersebut yang kurasakan.

Kerja hanya 2bulan. Pulang ke rumah tidak membawa harapan.

 Setelah beberapa hari kaki ini sembuh, kuputuskan untuk ikut Tes SBMPTN. 1 bulan menjelang hari H dari sisa gaji kerja selama 2 bulan kuambil beberapa untuk membeli buku yang berhubungan dengan tes tersebut. Sekitar 3 buku yang kubeli. Harganya lumayan mahal. Dengan niat yang sungguh-sungguh kubeli buku tersebut dan menargetkan diriku untuk selalu konsisten membuka buku entah membaca maupun mengerjakan latihan soal.

Mulai setiap pagi setelah sholat subuh kuprogram mata ini untuk tetap menyala. Kata Ibu lebih baik belajar pada jam-jam tersebut “Otak gampang nangkep” katanya.

Memang ucapan Ibu benar adanya. Setelah selesai belajar. Pukul 06.00 WIB aku mengantarkan Ibu ke Pasar. Pulang sekitar jam 09.00 WIB kusempatkan untuk melakukan sholat dhuha. Aku percaya Allah akan mengabulkan doa-doaku.

Pukul 10.00 WIB dilanjutkan mengantarkan Bapak ke Tower belakang rumah untuk bersih-bersih halaman juga mengecek tamu yang masuk dan memberi makan ayam yang bapak ternak. Sembari menunggu kubawa buku Tes Potensi Akademik yang mana lebih kecil daripada buku lainnya yang kubeli. Daripada bosan tak melakukan kegiatan apapun lebih baik aku mengejar ketertinggalanku.

Ketika semua kegiatan bapak sudah selesai. Sampai ke rumah sekitar jam 12.00 WIB. Setelah sholat wajib kulakukan kulanjutkan belajar lagi. Begitu terus sampai hampir menjelang tes SBMPTN.

Saat itu ada beberapa temanku juga yang ikut Tes SBMPTN. Semakin terpacu juga semangatku kaena,saling memberikan dukungan satu sama lain. Aku mendapatkan info bahwa terdapat beasiswa jika, mau mengajukan diri untuk mendapatkan surat keterangan tidak mampu dan persyaratan lainnya.

Semakin besar tujuanku untuk kuliah. Kugali informasi terus-menerus tentang hal tersebut. Alhamdulillah segala persyaratan lengkap dan bersyukur karena, aku diterima di salah satu Perguruan Tinggi di Surabaya yang merupakan pilihanku.

Allah memberikan banyak kemudahan kepada umatnya yang bersungguh-sungguh dalam berusaha dan berdoa. Salah satu temanku SMK, Deni namanya juga daftar tes SBMPTN. Kita berangkat dari terminal Bojonegoro naik bus jurusan Surabaya. Deni ini juga termasuk anak yang baik dan tergolong orang yang punya. Teman baikku sejak SMK. Sesampainya dari Terminal ada mobil hitam berplat L menghampiri kami. Kaca mobil mulai turun ke bawah. “Ayo, Dan” kata Deni

“Sopo iku, Den” tanyaku

“Sopire, Ibuk Ayok melbu” jawabnya

Langsung masuk saja aku ke mobil yang berhenti di depanku ini. Hmmm, nikmat Tuhan belum berhenti di sini. Mobil ini berhenti di salah satu hotel di sekitar tempat tesku besok dengan Deni dilaksankan.

Semua biaya yang menanggung yaa temanku ini. Di hotel tempat kita beristirahatpun setelah bersih diri kulanjutkan untuk membuka soal latihan lagi. Tak lupa kuberi kabar kepada Orangtua di rumah untuk terus mendoakanku agar besok dapat mengerjakan semaksimal mungkin.

Esok haripun tiba. Setelah sarapan di hotel dengan menu yang pas di pagi hari. Sembari menunggu sopir Deni datang juga. Aku dan Deni menikmati teh yang disediakan di sana. Kalau kuingat “Untuk menambah kekuatan, teh hangat di pagi hari bagus” kata Ibuk. Beberapa menit setelah sarapan selesai langsung menuju kampus. Kebetulan aku dan Deni berada di ruangan tes yang berbeda. Agak jauh dari parkir mobil.

Kulangkahkan kakiku menuju gedung fakultas ilmu sosial dan hukum. Kududuk di luar kelas sambil belajar dan berkenalan dengan beberapa pendaftar juga.

Kumasuki ruang tes dan kuberdoa kepada Sang Pencipta agar dapat masuk ke kampus yang kudatangi saat ini. Beberapa soal ada yang menurutku susah, ada pula yang mudah. Kupasrahkan segalanya kepadaNya. Waktu selesai, tespun selesai. Aku keluar menuju tempat parkir dan menemui Deni. Saat itu kondisinya macet. Sekitar pukul 18.00 WIB baru bisa keluar dari gerbang kampus.

Mulai mencari makan dan berbincang-bincang dengan Deni tentang soal yang tadi. Soto Ayam menjadi santapan kami karena hanya warung itu yang buka. Sesudah itu mampir ke SuperMarket untuk membeli snack juga minuman untuk perjalanan menuju Bojonegoro.

Di dalam mobil aku tertidur pulas sampai menuju rumah. Tibanya di rumah masih terpikir masalah soal-soal tes tadi. Hmm, menunggu dengan sabar kurang lebih 1 bulan.

Tepat tgl 29 Juni 2016 aku memasukkan username dan password tesku. Aku tak kuat jika nanti hasilnya gagal. Ketika itu ada kakakku dan dia menyarankan untuk dia saja yang membukanya.Kuserahkan hpku lalu dia memberikan tangannya kepadaku mengajak salaman.

Lalu dia berkata “Selamat”

Alhamdulillah terdapat senyum bahagia di bibir bapak dan ibuk saat itu. Aku lolos tes sekaligus mendapat beasiswa dari pemerintah. Sungguh bersyukurnya aku. Tak menyangka seorang Mantan Buruh Pabrik seperti aku ini ternyata bisa mewujudkan impian untuk menjadi perempuan yang berkualitas.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *