ELEGI MAHASISWA BARU

Oleh : Yulianto Adi Nugroho (S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Mahasiswa Agen Perubahan. Kita mungkin fasih mendengar kalimat ini, paling tidak setelah membaca kalimat pertama paragraf ini. Kalimat yang selalu dieluh-eluhkan dan menjadi mesiu andalah-terutama pada momen pengenalan kehidupan kampus mahasiswa baru. Kalimat yang sungguh bermakna dalam, tapi semoga tidak lancang jika saya bilang Ia telah kehilangan marwahnya-jatuh hanya sebatas slogan. Ya, semacam shock terapi purba yang masih dipercaya mampu membangkitkan semangat adik-adik yang setengah lesu saat menyimak seminar dari Pak Dekan atau mulai kehilangan gairah saat berbaris menyanyikan Mars Perindo universitas.

Menjadi Mahasiswa bukan sekadar usaha menambah daftar calon intelektual. Pengalihan status dari anak rumahan jadi anak kos-an. Atau alasan-alasan lain yang mendorong untuk menunjukkan pribadi yang sarat obsesi. Apalagi menjerumuskan diri menjadi sosok yang tunduk akan aturan dan konvensi (bukan berarti saya menyarankan untuk tidak patuh aturan). Singkatnya begini, menjadi mahasiswa adalah sepakat untuk menjadi manusia yang berpikir lebih dari manusia lain.

Melek lingkungan dan bersikap bijak terhadap pelbagai hal. Tidaklah perlu mati-matian untuk menjadikan mereka berbeda dan menimpali dengan iming-iming tetek bengek agen perubahan bangsa. Peka terhadap realitas, cukup untuk disebut sebagai mahasiswa. Barangkali memang itu poin utama yang sebenarnya perlu ditekankan pada mahasiswa baru.

Tapi masalahnya adalah kegiatan-kegiatan yang sering kita sebut sebagai pengenalan kehidupan kampus, yang konon sebentar lagi akan mulai itu cenderung hanya berhenti pada urgensi program kerja. Sementara dalam praktiknya mencolot jauh dari tendensi dan pokok kebutuhah mahasiswa baru yang unyu-unyu itu. Memang ada beberapa bagian yang menurut saya sudah menjurus pada hakikat itu. Namun tidak sedikit juga, program-program mubazir yang justru lebih ditekankan dan punya kelonggaran waktu. Soal atribut yang terlalu belibet, berangkat pagi sebelum ayam bangun, bawa ini bawa itu, menyusun lagu yel-yel lalu diadu, membuat sebuah situasi tegang-kalian teriak-teriak dan membentak, tangis pecah di sana sini. Kemudian kalian sok menjadi petuah. Ah, aku muak boy.

Harus seburuk itukah untuk menjadi agen perubahan? Kalau sudah begini urgensi pengenalan kehidupan kampus sesungguhnya bukan lagi soal menanam doktrik agen perubahan yang semakin salah kaprah. Namun menyelaraskan antara obsesi yang mereka rangkai dari rumah sedemikian rupa tentang kesibukan menjadi mahasiswa, belajar tekun menyongsong hari depan, juga mengembangkan mimpi-mimpi di jurusan (soal jurusan idaman atau buka sama saja) itu dengan nilai-nilai dan pokok seorang mahasiswa yang sesungguhnya-manusia yang harus berpikir lebih dari manusia lain. Begitu wahai paduka kakak pembina. (YAN)

Pernah dimuat di portal mahasiswabicara.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *